WAHYU DAN AL-QUR’AN
PENDAHULUAN
Al-Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad Saw. lewat perantara malaikat Jibril sebagai mu'jizat. Al-Qur'an adalah sumber ilmu bagi
kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik
aqidah, ibadah, etika, mu'amalah dan sebagainya. Firman Allah:
"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk
menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl : 89).
Mempelajari isi Al-qur'an akan menambah perbendaharaan
baru, memperluas pandangan dan pengetahuan, meningkatkan perspektif baru dan selalu
menemukan hal-hal yang
selalu baru. Lebih jauh lagi, kita akan lebih yakin akan keunikan isinya yang
menunjukan Maha Besarnya Allah sebagai penciptanya. Firman Allah:
"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab
(Al-Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan
Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A'raf
: 52).
Bersamaan dengan wahyu, maka fitrah inilah yang meninggikan
derajat dan gaya berfikirnya seseorang, relevan dengan apa yang sesuai dalam
memecahkan kesulitan pada waktu itu, yaitu pada waktu Rasul-rasul itu
menyampaikan wahyu kepada kaumnya. Sehingga apa yang dicita-citakan itu akan
lebih mudah mendapatkannya dengan Al-Qur’an sebagai pedoman bagi umat manusia
di dunia.
PEMBAHASAN
Wahyu dan Al-Qur’an
A.
Wahyu
1. Pengertian Wahyu
Menurut bahasa kata “wahyu” berarti
“isyarat yang cepat, surat, tulisan, dan segala sesuatu yang disampaikan kepada
orang lain untuk diketahui.[1]
Wahyu
adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan berupa rumus dan
lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat
dengan anggota badan.[2]
Wahyu secara masdar (al-wahy) adalah tersembunyi dan cepat, jadi wahyu adalah
penberitahuan secara tersembunyi dan cepat dan khusus di tujukan kepada orang
yang di beri tahu tanpa diketahui orang lain. Wahyu menurut bahasa berarti
suara, tulisan, isyarat, bisikan, paham dan juga berarti api.
Wahyu
dapat juga diartikan “sebagai wasilah (cara) untuk menyampaikan sesuatu secara
tersembunyi dalam waktu dekat”, akan tetapi pengertian wahu bukanlah terbatas
hanya pada yang demikian saja. Wahyu menurut pengertian yang dikehendaki dalam
hubungan dengan firman Allah ang diturunkan kepada Nabi dan Rasul adalah
sebagai berikut Wahyu adalah hubungan gaib bersifat tersembunyi antara Allah
dengan orang-orang yang telah di sucikan-Nya (Rasul & Nabi) dengan tujuan
menurunkan kitab-kitab suci Samawi dengan perantara malaikat yang membawa wahyu
(Jibril).[3]
Imam
Muhammad Abduh dalam bukunya yang terkenal “Risalatut Tauhid”
mendefinisikan : wahyu itu suatu pengetahuan (irfan) yang didapat oleh
seseorang dan memeperoleh rahasianya, karena wahyu itu dapatlah dikatakan suatu
keadaan yang tidak diketahui hakekatnya, melainkan oleh Nabi yang mendapat
wahyu itu sendiri.[4]
Disebutkan
dalam kitab al-masyariq bahwa wahyu itu pada asalnya adalah sesuatu yang
diberitahukan dalam keadaan tersembunyi dan cepat. Yang dimaksud diketahui
dengan cepat ialah dituangkan suatu pengetahuan ke dalam jiwa sekaligus dengan
tidak lebih dahulu timbul pikiran dan muqoddimah.[5]
Allah
SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Asy-Syuura ayat 51 sebagai berikut:
Artinya :“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah
berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir
atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan
seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha
Bijaksana”. (QS. Asy-syuura : 51).
Kalau
dipahami lebih dalam, ayat diatas menjelaskan bahwa Allah berkomunikasi dengan
manusia melalui tiga cara, yaitu dengan perantaraan wahyu, langsung bertemu
dengan utusannya sebagaimana ketika nabi Muhammad SAW Isra’ Mi’raj, mengirim
utusan sebagaimana ketika nabi Muhammad ketika menerima wahyu yang pertama kali.
a. Berarti
Ilham Gharizi atau Instink yang terdapat pada manusia atau binatang. Firman Allah:
Artinya : “Dan Tuhanmu telah mewahyukan (member instink) kepada lebah, supaya membuat (sarang-sarang) di bukit-bukit, di pohon-pohon, kayu, dan di (rumah-rumah) yang didirikan (manusia)." ( QS. Al-Nahl : 68).
b. Berarti Ilham Fitri atau firasat yang hanya ada pada manusia dan
tidak pada binatang. Firman Allah:
Artinya : “Dan Kami ilhamkan (berfirasat) kepada ibu Nabi Musa
supaya menyusui dia (Musa).” (QS. Al-Qashshash: 7).
c. Berarti
tipu-daya dan bisikan setan. Firman Allah:
Artinya : “Sesungguhnya
syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian.” (QS.
Al-An’am:121).
d. Berarti
isyarat yang cepat secara rahasia, yang hanya tertuju kepada Nabi/Rasul Allah
saja. Firman Allah:
Artinya : “Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu
kepadamu, sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi
sesudahnya.” (QS. An-Nisa : 163).
Dari
urain diatas dapat
diambil benang merah bahwa wahyu adalah isyarat, bisikan, insting, ilham dari Allah
terhadap hamba yang telah dipilihnya yang selanjutnya disebut sebagai Nabi atau
Rasul.
Hal ini sebagaimana yang diungkapkan
oleh Dr. Abdullah Syahhatah dalam kitab ‘Ulumul Qur’an Wat Tafsir,
mendefinisikan “wahyu menurut syarak ialah pemberitahuan Allah SWT kepada
orang yang dipilih dari beberapa hamba-Nya mengenai berbagai petunjuk dan ilmu
pengetahuan yang hendak diberitahukannya tetapi dengan cara yang tidak biasa
bagi manusia”.[7]
2. Macam-Macam
Penyampaian Wahyu dan Kemungkinan Turunnya
Wahyu
oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan peristiwa yang
sangat besar. Turunnya merupakan peristiwa yang tidak disangka-sangka.
Begitulah Allah memberikan titah-Nya kepada manusia terpilih, yaitu Muhammad
bin Abdullah bin Abdul Muthalib.
Wahyu
secara bahasa artinya adalah, pemberitahuan secara rahasia nan cepat. Secara
syar'i, wahyu berarti pemberitahuan dari Allah kepada para nabiNya dan para
rasul-Nya tentang syari'at atau kitab yang hendak disampaikan kepada mereka,
baik dengan perantara atau tanpa perantara. Wahyu secara syar'i ini jelas lebih
khusus, dibandingkan dengan makna wahyu secara bahasa, baik ditinjau
dari sumbernya, sasarannya maupun isinya.
Ada bermacam-macam wahyu syar'i, dan yang
terpenting ialah sebagaimana penjelasan berikut [8].
a. Taklimullah (Allah Azza wa Jalla
berbicara langsung) kepada Nabi-Nya dari belakang hijab.
Yaitu
Allah SWT menyampaikan apa yang hendak Dia sampaikan, baik dalam keadaan
terjaga maupun dalam keadaan tidur.
Sebagai
contoh dalam keadaan terjaga, yaitu seperti ketika Allah Azza wa Jalla
berbicara langsung dengan Musa Alaihissallam, dan juga dengan Nabi Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam pada peristiwa isra' dan mi'raj. Allah berfirman tentang nabi
Musa :
Artinya : “Dan Allah telah berbicara
kepada Musa dengan langsung". (QS. An-Nisaa` :
164).
Adapun
contoh ketika dalam keadaan tidur, yaitu sebagaimana diceritakan dalam hadits
dari Ibnu Abbas dan Mu'adz bin Jabal. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, yang artinya “Aku didatangi (dalam mimpi) oleh Rabb-ku dalam bentuk
terbaik, lalu Dia berfirman : "Wahai, Muhammad!" Aku menjawab, "Labbaik
wa sa'daika." Dia berfirman, "Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat
itu?" Aku menjawab, "Wahai, Rabb-ku, aku tidak tahu, "lalu
Dia meletakkan tanganNya di kedua pundakku, sampai aku merasakan dingin di
dadaku. Kemudian, aku dapat mengetahui semua yang ada di antara timur dan
barat. Allah Azza wa Jalla berfirman, "Wahai,
Muhammad!" Aku menjawab, "Labbaik wa sa'daika!" Dia
berfirman, "Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat itu?" Aku
menjawab,"…".
Dalam
hal wahyu ini, para ulama salaf, Ahli Sunnah wal-Jama'ah memegangi pendapat,
bahwa Nabi Musa Alaihissallam dan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam,
keduanya pernah mendengar kalamullah al-azaliy al-qadim, yang merupakan salah
satu sifat di antara sifat-sifat Allah. Pendapat ini sangat berbeda dan tidak
seperti yang dikatakan oleh sebagian orang, bahwa yang terdengar adalah bisikan
hati atau suara yang diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla pada sebatang pohon.
b. Allah Azza wa Jalla menyampaikan risalahNya
melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan ini meliputi beberapa cara, yaitu :
1. Malaikat Jibril menampakkan diri dalam
wujud aslinya. Cara seperti ini sangat jarang terjadi, dan hanya terjadi dua kali.
Pertama, saat Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
setelah masa vakum dari wahyu, yaitu setelah Surat al-'Alaq diturunkan, lalu
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menerima wahyu beberapa saat. Masa ini
disebut masa fatrah, artinya kevakuman. Kedua, Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya, yaitu saat Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dimi'rajkan.
2. Malaikat Jibril Alaihissallam
terkadang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam wujud seorang
lelaki. Biasanya dalam wujud seorang lelaki yang bernama Dihyah al-Kalbiy. Dia
adalah seorang sahabat yang tampan rupawan. Atau terkadang dalam wujud seorang
lelaki yang sama sekali tidak dikenal oleh
para sahabat. Dalam penyampaian wahyu seperti ini, semua sahabat yang hadir
dapat melihatnya dan mendengar perkataannya, akan tetapi mereka tidak
mengetahui hakikat permasalahan ini. Sebagaimana diceritakan dalam hadits
Jibril yang masyhur, yaitu berisi pertanyaan tentang iman, Islam dan ihsan.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Di awal hadits ini, 'Umar bin Khaththab
Radhiyallahu 'anhu menceritakan:
“Pada
suatu saat, kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, sangat hitam
rambutnya, tidak terlihat tanda-tanda melakukan perjalanan jauh, dan tidak
tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya, sampai dia duduk di dekat
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam”, kemudian di akhirnya, yaitu sesaat setelah
orang itu pergi, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Umar
Radhiyallahu 'anhu : "Wahai 'Umar, Tahukah engkau, siapakah orang yang
bertanya tadi?" Aku menjawab, "Allah dan RasulNya yang lebih
mengetahui," (kemudian) Rasulullah bersabda, "Dia itu adalah Malaikat
Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian din (agama) kalian."
Ini
menunjukkan, meskipun para sahabat dapat melihatnya dan bisa mendengar
suaranya, namun mereka tidak mengetahui jika dia adalah Malaikat Jibril yang
datang membawa wahyu. Mereka mengerti setelah diberitahu oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam.
3. Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, namun ia tidak terlihat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
mengetahui kedatangan Malaikat Jibril dengan suara yang mengirinya. Terkadang
seperti suara lonceng, dan terkadang seperti dengung lebah. Inilah yang
terberat bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga dilukiskan
saat menerima wahyu seperti ini, wajah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berubah. Meski pada cuaca yang sangat dingin, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
bermandikan keringat, dan pada saat itu bobot fisik Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam berubah secara mendadak.
Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara itu paha beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berada di atas pahaku. Lalu paha beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi berat, sampai aku khawatir pahaku akan hancur".
Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara itu paha beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berada di atas pahaku. Lalu paha beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi berat, sampai aku khawatir pahaku akan hancur".
c. Wahyu disampaikan dengan cara
dibisikkan ke dalam kalbu.
Yaitu
Allah Azza wa Jalla atau Malaikat Jibril meletakkan wahyu yang hendak
disampaikan ke dalam kalbu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam disertai
pemberitahuan bahwa ini merupakan dari Allah Azza wa Jalla. Seperti hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab al-Qana'ah, dan Ibnu Majah, serta al-Hakim
dalam al-Mustadrak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang
artinya: "Sesungguhnya Ruhul Quds (Malaikat Jibril) meniupkan ke dalam kalbuku
: "Tidak akan ada jiwa yang mati sampai Allah Azza wa Jalla menyempurnakan
rizkinya. Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, dan carilah rizki dengan
cara yang baik. Janganlah keterlambatan rizki membuat salah seorang di antara kalian
mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang disisi Allah
Azza wa Jalla tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mentaatiNya".
d. Wahyu diberikan Allah Azza wa Jalla dalam
bentuk ilham.
Yaitu
Allah memberikan ilmu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, saat beliau
berijtihad pada suatu masalah.
e. Wahyu diturunkan melalui
mimpi.
Yaitu
Allah Azza wa Jalla terkadang memberikan wahyu kepada para nabi-Nya dengan perantaraan mimpi.
Sebagai contoh, yaitu wahyu yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalllam
agar menyembelih anaknya.
Demikian
cara-cara penerimaan wahyu Allah Azza wa Jalla yang diberikan kepada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua jenis wahyu ini dibarengi dengan keyakinan
dari si penerima wahyu, bahwa apa yang diterima tersebut benar-benar datang
dari Allah Azza wa Jalla, bukan bisikan jiwa, apalagi tipu daya setan.
3. Macam-macam
Cara Wahyu yang Pertama Diterima Rasulullah
Allah memberikan
wahyu yang pertama kepada Rasulullah Saw. adalah dengan tanpa melalui
perantaraan dan perantaraan.
1. Tanpa Melalui Perantaraan, yaitu : Mimpi yang benar didalam
tidur.
Dari
Aisyah r.a, dia berkata : “sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi pada
Rasulullah SAW adalah mimpi yang
benar diwaktu tidur, beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya di waktu
pagi hari”.
Di
antara alasan yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para Nabi adalah
wahyu yang wajib diikuti, ialah mimpi Nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya,
Ismail. ( As-Saffat
: 101-112 ).
Mimpi
yang benar itu tidaklah khusus bagi para rasul saja, mimpi yag demikian itu
tetap ada pada kaum mukminin, sekalipun mimpi itu bukan wahyu. Hal-itu seperti
dikatakan oleh Rasulullah SAW : “Wahyu telah terputus, tetapi berita-berita
gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin”.
Mimpi
yang benar bagi para nabi diwaktu tidur itu merupakan bagian pertama dari sekian
macam cara Allah berbicara seperti yang disebutkan didalam firman- Nya:
وَمَا
كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ
حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ
حَكِيمٌ
“Dan tidak mungkin
bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan
perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu
diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”. (Asy-Syuraa : 51 ).
2. Melalui Perantaraan Malaikat
Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat
kepada Rasul:
Cara pertama:
Datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang
mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya
siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat buat Rasul.
Apa bila wahyu yang
turun kepada Rasulullah SAW dengan cara ini maka ia mengumpulkan semua kekuatan
kesadarannya untuk menerima, menghafal-dan memahaminya. Dan mungkin suara itu
sekali suara kepakan sayap-sayap malaikat, seperti diisyaratkan didalam hadis .
Cara kedua: Malaikat
menjelma kepada rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara ini
lebih ringan dari pada yang sebelumnya. Karena ada kesesuaian antara pembicara
dan pendengar. Rasul merasa senang sekali mendengar dari utusan pembawa wahyu
itu. Karena merasa seperti manusia yang berhadapan saudaranya sendiri.
Keduanya cara di atas
disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mu`minin r.a bahwa
haris bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hal-itu dan jawab
Nabi : “Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan
itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa
yang dikatakannya. Dan terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang
laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, dan akupun memahami apa yang ia katakan”.
Aisyah juga
meriwayatkan apa yang dialami Rasulullah SAW berupa kepayahan, dia berkata : “Aku
pernah melihatnya tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang
amat dingin, lalu malaikat itu pergi. Sedang keringatpun mengucur dari dahi
Rasulullah”.
4.
Perbedaan
Wahyu Ilham dan Ta’lim
Ketiga
istilah ini memiliki kesamaan, bahwa semuanya sama-sama menunjukkan pengetahuan
yang bersumber dari Allah SWT. Perbedaannya adalah, wahyu hanya diperuntukkan
bagi orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, yaitu para Nabi dan Rasul;
sedangkan ilham dan ta’lim (ilmu) diberikan oleh Allah kepada semua manusia.
Pengertian
ilham, menurut pendapat sebagian ulama, sebagaimana dikemukakan oleh Hasbi
Ash-Shidiqhi, ialah “menuangkan suatu pengetahuan kedalam jiwa yang menuntut
penerimanya supaya mengerjakannya, tanpa didahului dengan ijtihad dan
penyelidikan hujjah-hujjah agama”.[9]
Sejalan dengan pendapat ini, Al-Jurjani dalam Kitāb At-Ta’rīfāt mendefinisikan,
bahwa ilham ialah “sesuatu yang dilimpahkan ke dalam jiwa dengan cara
pemancaran, ia merupakan ilmu yang ada di dalam hati/jiwa, dan dengannya
seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu tanpa didahului dengan pemikiran”.[10]
Dalam
pengertian ini hampir sama dengan pengertian instink yang dikenal-dalam dunia
Psikologi, yaitu “pola tingkah laku yang merupakan karakteristik-karakteristik
spesi tertentu; tingkahlaku yang diwariskan dan dilakukan secara berulang-ulang
yang merupakan khas spesi tertentu. Bahkan menurut Sigmund Freud, ia merupakan
sumber energi atau dorongan primal-yang tidak dapat dipecahkan. Lebih lanjut
Freud menambahkan, instink itu terbagi dua: instink kehidupan (Eros) dan
instink Kematian (Tahanatos)”.
Dua
macam instink (ilham) yang terdapat dalam jiwa setiap manusia juga diungkapkan
dalam Aquran dengan sebutan Fujur dan Taqwa. Sebagaimana termaktub dalam Alquran,
surat Asy-Syams
: 8.
Artinya : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan
kefasikan dan ketaqwaannya”. (QS. Al-Syams : 8).
Dua
macam instink yang disebutkan dalam ayat di atas adalah instink atau
kecendrungan untuk berbuat buruk (Fujur) dan instink atau kecendrungan
untuk berbuat baik (Taqwa). Kedua macam ini bersifat potensial.
Artinya, setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat baik dan berbuat buruk.
Karena sifatnya yang potensial, maka aktualisasi instink ini tergantung pada
kecendrungan/kemauan manusia untuk mengaktualkan instink mana dari kedua instink
tersebut. Jika seorang manusia memiliki kecendrungan untuk mengaktualkan
instink keburukan (fujur), maka yang akan dominan dalam dirinya adalah
sifat kejahatan; sehingga jadilah dia sebagai penjahat, pengingkar terhadap
perintah dan larangan Allah. Demikian pula sebaliknya, jika instink kebaikan
yang dikembangkan/diaktualkan, maka jadilah dia sebagai manusia yang baik,
patuh terhadap perintah dan larangan Allah.
Dari
pengertian ini dapat disimpulkan, bahwa perbedaan antara kedua istilah yang
disebutkan terakhir (ilham dan ta’lim) terletak pada
proses/cara memperolehnya. Ilham hanya dapat diperoleh atas kehendak Allah,
tanpa usaha manusia; sedangkan ta’lim (ilmu) harus melalui usaha manusia; kecuali ilmu
ladunniy yang dalam pandangan ahli tasawwuf proses perolehannya sama
dengan ilham.[11]
B.
Al-Qur’an
1. Pengertian Al-Qur’an
a. Etimology
Nama Al-Qur’an muncul bukan hasil
dari pemikiran manusia, namun nama Al-Qur’an sendiri itu muncul di dalam kitab
itu sendiri. Berawal
dari pemikiran itulah muncul sebuah pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an
bukanlah hasil definisi dari sebuah kata, namun Al-Qur’an adalah sebuah isim alam
yang diiberikan Allah kepada kitab suci ini. Diantaranya adalah pendapat dari
imam Syafi’i yang merasa tidak perlu mengupas asal-usul pemberian nama ini,
karena Allah lah yang
memang memberi nama demikian, sama saja ketika Allah memberi nama Taurat dan
Injil kepada nabi Musa dan nabi Isa as.[12]
Al-Qur’an
menurut bahasa adalah bacaan atau yang dibaca. Al-Qur’an adalah “mashdar” yang
diartikan dengan isim maf’ul, yaitu maqru’ (yang dibaca). Pengertian secara
bahasa ini tidak disepakati sepenuhnya oleh para Ulama sebab sebagian ulama
menyatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah timbul dari kata-kata apapun, melainkan dia
adalah nama khusus bagi “Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW
sebagaimana halnya nama yang diberikan-Nya untuk kitab suci; Taurat, Zabur dan
Injil”. Bila dibaca “Qur’an” (tanpa al-di depannya) memang berarti nama bagi
segala yang dibaca. Sedangkan ‘Al-Qur’an” hanyalah tertuju kepada firman Allah
yang diturunkan dalam bahasa arab itu.[13]
Dan
apabila Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang
berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang".
Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a
yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah
satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah
yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan
(menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,)
jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti (amalkan) bacaannya”.[14]
Para ulama telah berbeda
pendapat didalam menjelaskan kata alqur’an dari sisi derivasi (isytiqaq) yaitu
cara melafalkan apakah memakai hamzah atau tidak, dan apakah ia merupakan kata
sifat atau kata jadian. Para ulama yang mengatakan bahwa cara melafalkannya
menggunakan hamzah pun telah terpecah menjadi dua pendapat.
Sebagian diantaranya
berpendapat bahwa Al-lihyani, berkata bahwa kata “Al-Qur’an” merupakan kata
dasar dari قرأ (membaca). Kata jadian ini kemudian dijadikan sebagai nama bagi
firman Allah yang diturunkan kepada Nabi kita, Muhammad SAW. Penamaan ini masuk
dalam kategori “tasmiyah al-maf’ul bi al-mashdar” (Penamaan
isim maf’ul dengan isim mashdar). Mereka merujuk firman Allah pada surat Al-Qiyamah
ayat: 17-18.
Sebagian dari mereka,
diantaranya Al-zujaj, menjelaskan bahwa kata “Al-Qur’an” merupakan kata sifat
yang berasal dari kata dasar “al-qara” yang artinya menghimpun. Kata sifat ini
kemudian dijadikan nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Karena kitab itu menghimpun
surat, ayat, kisah, perintah dan larangan. Atau karena kitab ini menghimpun
intisari kitab-kitab suci sebelumnya.
Para ulama yang mengatakan
bahwa cara melafalkan kata Alqur’an dengan tidak menggunakan hamzah pun
terpecah menjadi dua kelompok :
a. Sebagian dari mereka,
diantaranya adalah Al-Asy’ari, mengatakan bahwa kata Al-Qur’an diambil dari kat
kerja “Qarana” (menyertakan) karena Alqur’an menyertakan surat, ayat-ayat dan huruf-huruf.
b. Alfarra’ menjelaskan
bahwa kata “Alqur’an” diambil dari kata dasar “Qara’in” (penguat) karena Alqur’an
terdiri dari ayat-ayat yang saling menguatkan, dan terdapat kemiripan antara
satu ayat dan ayat-ayat lainnya.[15]
b. Terminology
Definisi
secara terminology juga banyak pendapat yang mendefinisikannya, salah satu
pendapat yang disepakati ulama dari ahli ushul adalah kalam Allah yang tiada
tandingannya (mu’jizat), yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, penutup para
nabi dan Rasul dengan perantaraan malaikat Jibril as. dimulai dengan surat Al-Fatihah
dan diskhhiri dengan surat Al-Nash dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang
disampaikan kepada kita secara mutawatir serta mempelajarinya merupakan suatu
ibadah.[16]
Sedangkan menurut Al-Jurjani, yaitu
kitab yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yang ditulis didalam mushaf dan
yang diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.[17]
Dari
pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah
metode penurunan wahyu yang lafal dan maknanya berasal dari Allah, karena
ketika malaikat Jibril memberikan sebuah ayat Al-Qur’an sudah dalam bentuk
kata-kata sebagaimana yang disampaikan oleh para sahabatnya.
Al-Qur’an
adalah risalah Allah kepada manusia semuanya. Banyak nash yang menunjukkan hal itu, didalam Al-Qur’an
salah satunya sebagai berikut [18]:
Artinya : Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah
utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan
bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan
mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang
beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan
ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. al-a’raf : 158).
Artinya : ”Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan
(Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada
seluruh alam”. (QS. al-furqon : 1).
2. Nama-nama Lain
dari Al-Qur’an
Allah
SWT menyebut Al-Qur’an dengan sebutan yang banyak sekali, yang menunjukkan
keagungan, keberkatan, pengaruhnya dan keuniversalannya serta menunjukkan bahwa
ia adalah pemutus bagi kitab-kitab terdahulu sebelumnya.
Al-Qur’an
sebagaimana dimaksud di atas memiliki nama-nama yang bukan hanya Al-Qur’an
saja, tetapi memiliki nama-nama lainnya, hanya saja nama yang paling populer adalah
Al-Qur’an. Nama-nama lainnya tersebut secara rinci dijelaskan oleh as-Suyuti dalam
Kitab Al-Itqannya yang terkenal-sebanyak lima puluh nama, yaitu Al-Kitab, Al-Mubin,
Al-Karim, Al-Kalam, An-Nur, Al-Huda, Ar-Rahmah, Al-Furqan, Asy-Syifa’, Al-Mau’idzah,
Az-Zikir, Al-Mubarak, Al-Aliy, Al-Hakim, Al-Hikmah, Al-Muhaimin, Al-Mushaddiq, Al-Habl,
Ash-Shirotol Mustaqim, Al-Qoyyim, Al-Qaul, Al-Fashl, An-Naba’ul Adzim, Ahsanul
Hadits, Al-Matsany, Al-Mutaqabil, At-Tanzil, Ar-Ruh, Al-Wahyu, Al-Arabiyyu, Al-Bashair,
Al-Bayan, Al-Ilmu, Al-Haqqu, Al-Hadi, Al-Ajab, At-Tadzkirah, Al-Urwatul Wutsqa,
Ash-Shidiq, Al-Adl, Al-Munadi Yunadi Lil Iman, Al-Busyraa, Al-Majiid,
Az-Zabuur, Al-Basyiir, An Nadziir, Al-Aziiz, Al-Balaagh, Ahsanul Qashash, dan
Shuhufun Mukarromah.[19]
Nama-nama
tersebut sebagian daripadanya diambil dari nama-nama Allah SWT yang terambil dalam
Asma’ul Husna. Penamaan Al-Qur’an dengan nama-nama ini juga menggambarkan sebagian
dari sifat-sifat yang dimiliki oleh Al-Qur’an. Dengan demikian maka pemberian
nama-nama tersebut adalah memiliki alasan-alasan yang terpikirkan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Sedangkan
Al-Qadhi
Abu al-ma’aliy Aziziy bin Abdu al-Malik, seperti dikutip al-Zarkasyi didalam Al-Burhan
mengatakan AlQur’an memiliki 55 buah nama.[20]
Untuk mendukung pendapatnya ini, Ibnu
Abd al-Malik menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Diantaranya adalah:
Kitab (Al-Dukkan, ayat 1 dan
2), Qur’an (Al-Waqi’ah, ayat 77), Kalam (Al-Taubah,ayat 6), Nur (Al-Nisa’, ayat
174), Hudan (Luqman, ayat 3), Rahmah (Yunus, ayat 58), Furqan (Al-Furqan, ayat
1), Syifa’ (Al-Isra’, ayat 82), Maw’izhah (Yunus, ayat 57), Dzikra (Al-Anbiya’,
ayat 50), Karim (Al-Waqi’ah, ayat 77), Ali (Azzukhruf, ayat 41), Hikmah (Al-Qamar, ayat 5), Hakim (Yunus, ayat
1 dan 2), Muhaymin (Al-Ma’idah, ayat 48), Mubarak (Shad, ayat 29), Habl (Ali
Imron, ayat 103), Shirath (Al-An’am, ayat 153), Al-Qayyim (Al-Kahfi, ayat 1 dan
2), Fadhla (Al-Thariq, ayat 13)
Dari
beberapa pendapat diatas, maka sebagian yang akan kami jelaskan, diantaranya:
a.
Al-Kitab (buku)
Artinya : Kitab (Al-Qur'an)
ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah: 2).
Artinya : “Maha suci Allah yang telah
menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi
pemberi peringatan kepada seluruh alam”.
(QS. Al-Furqan:1)
c.
Adz-Dzikr (pemberi peringatan)
Artinya : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an),
dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr : 9)
d.
Al-Mau'idhah (pelajaran/nasehat)
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam
dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 57)
e. Asy-Syifa' (obat/penyembuh)
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam
dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 57)
f. Al-Hukm (peraturan/hukum)
Artinya : Dan
demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur'an
itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab.
Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan
kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap
(siksa) Allah.
(QS. Ar-Ra'd : 37).
g.
Al-Hikmah (kebijaksanaan)
Artinya: Itulah
sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan
tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam
keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS. Al-Israa'
:39).
h. Al-Huda (petunjuk)
Artinya : Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur'an),
kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak
takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan
kesalahan. (QS. Al-Jin
: 13).
Artinya : Dan sesungguhnya Al-Qur’an
ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (QS. Asy Syu’araa’: 192).
j. Ar-Rahmat (karunia)
Artinya : Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar menjadi
petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. An Naml : 77).
k. Ar-Ruh (ruh)
Artinya : Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur'an)
dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an)
dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an
itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara
hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan
yang lurus. (QS. Asy Syuura
: 52).
l. Al-Bayan (penerang)
Artinya : (Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh
manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran : 138).
m. Al-Kalam (ucapan/firman)
Artinya : Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin
itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat
mendengar firman Allah,
kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan
mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS.
At Taubah
: 6).
n. Al-Busyra (kabar gembira)
Artinya : Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril)
menurunkan Al-Qur'an
itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah
beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)". (QS. An-Nahl
: 102).
o. An-Nur (cahaya)
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu
bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu
cahaya yang terang benderang.
(QS. An-Nisaa'
: 174).
p. Al-Basha'ir (pedoman)
Artinya : Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia,
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
(QS. Al-Jaatsiyah : 20).
q. Al-Balagh (penyampaian/kabar)
Artinya : (Al-Qur'an) ini adalah kabar yang sempurna bagi
manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka
mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang
berakal-mengambil pelajaran.
(QS. Ibrahim
: 52).
r. Al-Qaul (perkataan/ucapan)
Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami turunkan
berturut-turut perkataan ini (Al-Qur'an) kepada mereka agar mereka mendapat
pelajaran. (QS. Al-Qashash
: 51) .
3.
Garis
Besar Kandungan Al-Qur’an
Al-Quran
sebagai kitab suci umat islam merupakan kumpulan firman Allah (kalam Allah) yang
diwahyukan kepada nabi muhammad SAW yang mengandung petunjuk-petunjuk bagi umat
islam.dan diantara tujuan diturunkanya al-quran adalah untuk menjadi pedoman
bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup, baik dunia maupun diakhirat
kelak. Dr. M. Quraish
Shihab, dalam wawasan Al-Quran menyebutkan secara lebih rinci tentang tujuan
diturunkanya AL-Quran menjadi delapan, diantaranya adalah:
a. Untuk membersihkan dan menyucikan
jiwa dari segala bentuk syirik serta memantapkan keyakinan tentang ke-Esa-an yang sempurna bagi Tuhan Semesta Alam.
b. untuk mengajarkan kemanusiaan yang
adil dan beradab,yakni bahwa umat manusia merupakan umat yang seharusnya dapat
bekerja sama dalam pengabdian kepada allah SWT dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.
c. untuk menciptakan persatuan dan
kesatuan, bukan saja antar suku atau bangsa, tetapi kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan di dunia dan
akhirat, natural dan supranatural, kesatuan ilmu, iman, dan
rasio, kesatuan kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan kemerdekaan dan determinasi kesatuan sosial,
politik, dan ekonomi, dan kesemuanya berada dibawah ke-Esa-an Allah SWT.
d. untuk mengajak manusia berpikir dan
bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui
musyawarah dan mufakat yang dipimpin hikmah kebijaksanaan.
e.
untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit
penderitaan hidup, serta
pemerasan manusia atas manusia dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan juga
agama.
f.
untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan
kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan
masyarakat manusia.
g. untuk memberikan jalan tengah antara
falsafah monopoli kapitalisme dengan falsafah kolektif komunisme, menciptakan ummatan wasathan yang
menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
h. untuk menekankan peranan ilmu dan
tekhnologi, guna menciptakan suatu peradaban
yang sejalan
dengan jati diri manusia dengan
panduan Nur Ilahi.[23]
Al-Quran
diturunkan tidak hanya untuk umat tertentu, melainkan
untuk seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang masa. Hal-ini sebagaimana
firman Allah SWT dalam Q.S. Saba’:28
Artinya:
“Dan kami tidak mengutus engkau (hai Muhammad) melainkan kepada umat
manusiaseluruhnya sebagai pengemban berita baik dan juru ingat kepada sekalian
manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S.Saba’ : 28).
Ayat
ini menunjukan bahwa tidak suatu masyarakat pun yang dikecualikan ajaran islam
yang disampaikan nabi Muhammad SAW. Allah SWT telah menetapkan bahwa risalah
ketuhanan ditutup dengan kerasulan Muhammad. Allah SWT juga menetapkan risalah Muhammad
itu bersifat universal, artinya ditujukan bagi seluruh umat manusia dan
berbagai bangsa dan bahasa, kepada kaum yang masih keadaan primitive, maupun
keadaan kaum yang telah mencapai peradaban dan kebudayaan yang tinggi bagi
seorang pertapa, orang tidak begitu mengindahkan harta, maupun bagi seoarang
usahawan, orang yang kaya maupun yang miskin, yang pandai maupun yang bodoh, yang
meliputi segala lapangan kegiatan manusia, baik yang hidup semasa dengannya, maupun
yang datang kemudian sampai hari kiamat.
Al-Quran
secara pribadi telah memberikan informasi yang sangat jelas mengenai isi
/kandunganya, tentang pengetahuan dan pelajaran pelajaran yang sangat luas yang
terkandung didalamnya. hal-ini dapat dijumpai dalam dua tempat, yaitu dalam Q.S
al-kahfi: 109, dan dalam Q.S. Luqman: 27, Allah SWT berfirman:
Artinya
:“Katakanlah: sehingga lautan menjadi tinta untuk menuliskan firman
tuhanku,akan habislah lautan sebelum firman tuhanku habis ditulis; sekalipun
kami berikan tambahanya sebanyak itu pula”. (QS. al-kahfi :109).
Artinya : “Dan seandainya pohon-pohon dibumi menjadi pena
dan lautan menjadi tinta,ditambahkan sesudahnya tujuh lautan lagi, niscaya kalam
allah tidak akan habis-habisnya”. (QS. Luqman : 27).
Secara
garis besar, kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dapat dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu
a. Ayat-ayat yang berhubungan dengan
keimanan, baik iman kepada Allah, malaikat, kitab kitab Allah, Rasul-Rasul Allah
dan hari akhir. Atau dapat dikatakan kandungan yang pertama adalah pembahasan
ilmu kalam (tauhid) dan ushul Al-din.
b. Ayat-ayat yang berhubungan dengan
pekerjaan-pekerjaan hati, seperti menganjurkan berakhlak mulia. Atau dapat
dikatakan kandungan yang kedua adalah pembahasan akhlak.
c. Ayat-ayat yang berhubungan dengan pekerjaan
anggota badan seperti perintah-perintah, larangan-larangan, pilihan-pilihan.
Atau dapat dikatakan kandungan yang ketiga adalah pembahasan fiqih.[24]
4. Kedudukan dan Fungsi
Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berfungsi sebagai
mu’jizat bagi Rasulullah Muhammad Saw sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim
dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang
sebelumnya, dan bernilai abadi, sebagai pembeda (furqan), pemberi peringatan,
kabar gembira dan pengobat.
Diantara fungsi Al-Qur’an yang terpenting adalah [25]:
a. Sebagai
mukjizat
Mukjizat ialah suatu kejadian luar biasa dan tidak
mustahil, yang terjadi pada Rasul Allah SWT. Untuk membuktikan bahwa, beliau
benar Rasul-Nya dan dengan izin Allah SWT. Hal itu di
perlukan, karena setiap Rasul Allah
mempunyai mukjizat dan di butuhkan oleh kaumnya.
Umpamanya permintaan raja Fir’aun Mesir kepada Rasul
musa kalimullah, dalam (surat Al-a’raaf
: 106).
Fir'aun menjawab: "Jika benar kamu membawa
sesuatu bukti, Maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk
orang-orang yang benar". (QS. Al-a’raaf : 106).
Demikian
pula dalam Al-Qur’an surat Asy-syu’araa’ : 30-31:
Musa berkata: "Dan apakah (kamu akan
melakukan itu) kendatipun Aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang
nyata ?" (QS. Asy-syu’araa’ : 30).
Fir'aun berkata: "Datangkanlah sesuatu
(keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang
benar". (QS. Asy-syu’araa’ : 31).
b.
Sebagai sumber segala macam aturan tentang hukum, sosial, ekonomi, kebudayaan,
pendidikan, moral dan
sebagainya, yang harus dijadikan “way of life” bagi seluruh umat manusia untuk
memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya. (QS. Al-Ahzab
: 36).
“Dan tidaklah
patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai
Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata”. (QS.
Al-ahzb : 36).
c. Sebagai
hakim yang diberi wewenang oleh Allah SWT memberikan keputusan terakhir
mengenai beberapa masalah yang diperselisihkan dikalangan pemimpin-pemimpin
agama dari bermacam-macam agama dan sekaligus sebagai korektor yang mengoreksi
kepercayaan-kepercayaan / pandangan-pandangan/ anggapan-anggapan yang salah dikalangan
umat beragama, termasuk kepercayaan-kepercayaan yang salah, yang terdapat dalam
Byble atau kitab lain yang dipandang suci oleh para pemeluknya.
Menurut
pandangan Islam bahwa Nabi dan Rasul adalah maksum, artinya mereka pasti
terhindar dari melakukan perbuatan yang hina dan tercela seperti berdusta,
berzina dan menyembah berhala. (QS. An-Nahl : 65).
“Dan Allah
menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi
sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)”. (QS. An-Nahl : 65).
d. Sebagai pengukuh (penguat) yang
mengukuhkan dan menguatkan kebenaran keberadaan para Nabi dan Rasul sebelum
Nabi Muhammad SAW. Hanya saja ajaran-ajaran para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW
beserta kitab-kitab sucinya, sudah tidak orisinal lagi, sebab tidak sedikit
yang telah diubah oleh para pemimpinya. (QS. Al-Maidah:48 ; QS. An-Nisa:45).[26]
“Dan kami Telah
turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian
terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa
yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat
diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah
menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak
menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu
apa yang Telah kamu perselisihkan itu”. (QS.
Al-Maidah : 48).
Fungsi
Al-Qur’an yang lain, antara lain :
a. Al-Qur'an berfungsi sebagai petunjuk
atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di
akhirat.
b. sebagai rahmat atau bentuk kasih
sayang dari Allah bagi umat manusia.
Ada
juga Al-Qur’an banyak menceritakan kisah-kisah di dalamnya, bukan tanpa punya tujuan dan fungsi.
Adapun tujuan kisah dan fungsi dalam Al-Qur’an antara lain adalah [28]:
a. Untuk menunjukkan bukti ke-Rasul-an nabi Muhammad SAW. Sebab beliau
meski tidak pernah belajar tentang sejarah umat-umat dulu, tapi beliau dapat tahu tentang kisah tersebut. Semua itu
tidak lain belajar dari wahyu
Allah SWT.
b. Untuk dijadikan Uswatun Khasanah,
suri tauladan bagi kita semua, yaitu dengan mencontoh akhlak terpuji dari para
nabi dan orang-orang salih yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
c. Untuk mengokohkan hati Nabi Muhammad
dan umatnya dalam beragama Islam dan menguatkan kepercayaan orang-orang mukmin
tentang datangnya pertolongan Allah SWT dan hancurnya kebatilan. (Q.S. Hud : 120).
“Dan semua
kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang
dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini Telah datang kepadamu
kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S. Hud : 120).
d. Mengungkap kebohongan ahli Al-Kitab
yang telah menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni.
e. Untuk menarik perhatian para
pendengar dan menggugah kesadaran diri mereka melalui penuturan kisah.
f. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah
agama Allah SWT, yaitu bahwa semua ajaran para rasul intinya adalah Tauhid.
Muhammad Husain Thabathaba'i[29] menyebutkan
tiga posisi Al-Qur’an yaitu sebagai undang-undang paling utama dalam kehidupan,
menentukan jalan hidup manusia, dan sebagai sandaran kenabian.
Adapun
kedudukan Al-Qur’an, antara lain
sebagai berikut :
a. Kitab
berita dan kabar
Sebagai kitab berita dan khabar Al-Qur’an banyak
berbicara tentang orang-orang terdahulu, baik yang shalih maupun yang thalih. Al-Qur’an
berbicara tentang perjuangan para Nabi dan pertolongan Allah atas mereka, agar
umat ini mau mengikuti perjuangan mereka. Dan juga menceritakan tentang
orang-orang durhaka dan akibat buruk dari kedurhakan mereka.
Al-Qur’an bercerita tentang fir’aun dan akibat
kekufurannya yaitu di binasakan dan di tenggelamkan di laut merah beserta bala
tentaranya. Al-Qur’an juga bercerita tentang Qarun dan Kebakhilannya hingga Allah
tenggelamkan diri dan hartanya kedalam bumi, dan masih banyak contoh lainnya.
b. Kitab
hukum syariat dan Perundang-undangan
Sebagai pedoman hidup manusia, Al-Qur’an, memuat
hukum-hukum dan undang-undang untuk ditaati, baik hukum amaliah seperti :
1) Hukum Ibadah
yaitu hukum yang mengatur hubungan antara manusia
dengan Rabbnya (hablum minallah, baik ibadah mahdhoh (ibadah yang
disyari’atkan dan telah ditetapkan tata caranya oleh Nabi seperti shalat,
puasa, haji, dll.) maupun ibadah ghoiru mahdhoh (ibadah secara umum).
2) Hukum Mu’amalat
Yaitu hukum dan perundang-undangan yang mengatur
hubungan antara manusia denngan manusia lainnya (hablum minannas), Hukum
mualamat terbagi kepada :
a) Hukum Ahwal-Syaksiyah
Yaitu hukum yang sangat terkait erat dengan pribadi
setiap individu muslim sejak di lahirkan hingga wafatnya, seperti nikah, thalaq
dll.
b) Hukum Mu’amalah
Madaniyah
Yaitu hukum-hukum jual-beli, sewa menyewa dll.
c) Hukum acara
d) Hukum
Internasional
e) Hukum Ekonomi/keuangan
negara
3) Hukum Hudud
& Jinayah (pidana)
Yaitu hukum yang di syari’atkan dalam rangka menjaga
agama, jiwa, akal, keturunan, dan kehormatan.[30]
c. Kitabul
Jihad (Kitab Jihad)
Al-Qur’an menekankan
beberapa persoalan penting dan salah satunya adalah masalah jihad. Al-Qur’an
menyeru umat muslim agar berjihad seperti menghindar dari melampaui batas,
batas-batas jihad, kemulian bagi mujahidin, kecaman terhadap mereka yang
tertinggal-dari medan jihad, lari dari jihad, sistem jihad dan aturannya,
sholat dan peperangan, peperangan dalam bulan haram, bai’ah, tawanan dan
sebagainya.
d. Kitabul
Tarbiyah (Kitab Tarbiyah)
Al-Qur’an mendidik
jiwa-jiwa manusia menjadi jiwa-jiwa yang mempunyai kemuliaan diri, mandiri,
bebas dari penghambaan sesama makhluk, bermasyarakat, beradab dan tahu
nilai-nilai murni sebagai manusia yang berperan sebagai khairu ummah.
e. Minhajul
Hayah (Pedoman Hidup)
Allah memerintahkan
agar manusia menerima Al-Qur’an dengan tidak ragu-ragu, dan meyakini
kebenarannya, sebagai petunjuk dan pedoman hidup.
“Dan sesungguhnya
Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu
(Muhammad) ragu menerima (Al-Quran itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu
petunjuk bagi Bani Israil. (QS. As-Sajdah : 23).
Al-Qur’an merupakan
petunjuk, cahaya, tuntunan hidup manusia, yang akan menghantarkan setiap
manusia dari kegelapan menuju terang, dari jahil menuju cahaya iman.
f. I’jaz
Ilmi
Menurut Al-Ghazali Ilmu-dalam
artian akademis-bukanlah objek Al-Qur’an. Tetapi yang menjadi objek Al-Qur’an
adalah manusia. Manusia merupakan objek formal-dan ilmu merupakan objek material.
Al-Qur’an merupakan I’jaz ilmi karena ia menempatkan manusia ditengah etos ilmu
dan membuka pintu-pintunya untuk mengkaji ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an merupakan
kitab yang berisikan petunjuk bagi manusia dengan banyak bukti yang
diungkapkannya. Al-Qur’an tentang alam dan manusia sejalan dengan ilmu, sebab
objek ilmu adalah alam dan manusia. Maka adanya keparalelan objek tersebut sejalan
antara Al-Qur’an dengan ilmu.[31]
KESIMPULAN
Wahyu adalah isyarat, bisikan,
insting, ilham dari Allah terhadap hamba yang telah dipilihnya yang selanjutnya
disebut sebagai Nabi atau Rasul.
Macam-macam wahyu berdasarkan cara
turunnya :
a. Taklimullah
b. Malaikat Jibril
c. Bisikan dalam hati
d. Ilham
e. Mimpi
Wahyu, Ilham dan ta’lim, istilah ini
memiliki kesamaan, bahwa semuanya sama-sama menunjukkan pengetahuan yang
bersumber dari Allah SWT. Perbedaannya adalah, wahyu hanya diperuntukkan bagi
orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, yaitu para Nabi dan Rasul; sedangkan
ilham dan ta’lim (ilmu) diberikan oleh Allah kepada semua manusia. Perbedaan
antara kedua istilah yang disebutkan terakhir (ilham dan ta’lim)
terletak pada proses/cara memperolehnya. Ilham hanya dapat diperoleh atas
kehendak Allah, tanpa usaha manusia; sedangkan ta’lim (ilmu) harus melalui
usaha manusia; kecuali ilmu ladunniy yang dalam pandangan ahli
taSawwuf proses perolehannya sama dengan ilham.
Al-Qur’an merupakan sebuah metode
penurunan wahyu yang lafal-dan maknanya berasal-dari Allah, karena ketika malaikat
Jibril memberikan sebuah ayat Al-Qur’an sudah dalam bentuk kata-kata
sebagaimana yang disampaikan oleh para sahabatnya.
Selain nama Al-Qur’an yang sering
disebutkan dalam kitab tersebut sebagaimana yang sering dikenal-oleh mayoritas
muslim, masih ada beberapa nama yang juga dirujukkan kepada Al-Qur’an. Menurut Al-Qodhi
Abu al-Ma’aly ‘Aziziy bin Abdul Malik mengatakan Al-Qur’an memiliki 55 buah
nama, diantaranya adalah: al-kitab, quran, kalam, adzikr, al-furqan dan
lain-lain.
Secara garis besar isi kandungan dalam
Al-Qur’an meliputi :
a. Ilmu
Kalam (Tauhid)
b. Akhlak
c. Fiqih
Diantara fungsi Al-Qur’an
a. Sebagai
Mukjizat
b. Sebagai
Sumber Hukum
c. Sebagai
Hakim
d. Sebagai
Penguat (Pengukuh)
Adapun kedudukan Al-Qur’an antara lain :
a. Kitab
berita dan kabar
b. Kitab
hukum syariat dan perundang-undangan
c. Kitab
jihad
d. Kitab
tarbiyah
e. Kitab
Minhajul Hayah
f. Kitab
I’jaz Ilmi
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul, Djalal, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2011.
al-Kudhori,
Muhammad, Tarikh Tasyri’ Islami, Surabaya, Al-Hidayah, 2003
al-Qatan,
Manna Khalil, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Jakarta, Litera Antar Nusa, 2002.
al-zarkasy,
Badruddin Imam, M. Abdullah, Al-Burhan fi Ulum
Al-Qur’an, Tt, Lebanon, Dar Al-Ma’rifah.
Asep Sumardi, http://asepsumardi11.blogspot.com/2013/05/makalah-ulumul-quran-wahyu-dan-nuzulul.html.
ash-Shabuuny, Muhammad Ali, Studi Ilmu
Al-Quran, Tt, Bandung, CV.
Pustaka Setia.
ash-Shidiqhi, Hasbi, Ilmu Al-Qur’an & Tafsir, Semarang, PT.Pustaka Rizki Putra, 2009.
ash-Shidiqhi, Hasbi, Sejarah
dan pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Jakarta, Bulan Bintang, 1980.
as-Sayuthi,
Jalaluddin Abdurrahman, Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an, Tt, Cairo, Darul Fikri.
as-Shalih,
Shubhi, Mahahidts file ‘Ulumil Qur’an.
Dahlan, Zaini, Dkk, Mukadimah Al-Qur’an
dan Tafsirnya, Yogyakarta, PT. Dana
Bakti Wakaf, 1991.
Ichwan,
Muhammad Nor, Memasuki Dunia Al-Qur’an, Semarang, Lubuk Raya, 2001.
Mansyur,
Kahar, Pokok-Pokok Ulumul Qur’an, Jakarta, Rineka Cipta, 1992.
Marzuki,
Kamaluddin, Ulumul Quran, Bandung, PT.
Remaja Rosda Karya, 1994.
Mudzakir
AS, Studi ilmu-ilmu qur’an, Jakarta, PT.Pustaka Litera Antar Nusa, 2000.
Munawir,
Fajrul,dkk, Al-Qur’an, Yogyakarta, Pokja Akademik, 2005.
Quthan, Mana’ul, Pembahasan Ilmu Al-Qur’an 1, Jakarta,
PT. Rineka Cipta, 1998.
Shihab,
M. Qureish, et.al. Sejarah & Ulum Al-Quran cet II, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2000.
Syahbah, Muhammad bin Muhammad Abu, Al-Madkhal-li Dirasat Alqur’an Al-Karim,
Kairo, Maktabah As-sunnah, 1992.
Thabathaba'i, Muhammad Husain, Al-Qur'an fi Al-Islam, terj. Malik Madaniy, Bandung : Mizan, 1997.
Windi Mellsarah, http://mellsarahwindy.blogspot.com/2013/03/pengertian-kedudukan-dan-fungsi-al-quran.html
Zuhdi, Masjfuk,
Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya, CV. Karya Abditama, 1993.
[1] M. Qureish Shihab, et.al. Sejarah & Ulum
Al-Quran cet II, (Jakarta: 2000), Pustaka Firdaus, hal. 48.
[3] H. Zaini Dahlan,MA. Dkk, Mukadimah Al-Qur’an dan Tafsirnya,
(Yogyakarta: 1991),
PT. Dana Bakti
Wakaf, hal. 10.
[4] H. Zaini Dahlan,MA. Dkk, Mukadimah Al-Qur’an dan Tafsirnya,
(Yogyakarta: 1991), PT. Dana Bakti Wakaf, hal. 9.
[9] Hasbi Ash-shidiqhi, Sejarah dan pengantar Ilmu
Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta:
1980), Bulan Bintang, hal. 29.
[10] Al-Jurjani, Kitab
At-Ta’rifat, tt, Singapore: Haramain, Hal. 34
[13] Asep Sumardi, http://asepsumardi11.blogspot.com/2013/05/makalah-ulumul-quran-wahyu-dan-nuzulul.html.,
Diunduh pada tanggal 02 Maret 2014.
[15] Muhammad bin Muhammad Abu
Syahbah, Al Madkhal li Dirasat Alqur’an
Al Karim, (Kairo: 1992), Maktabah As sunnah, hal. 19-20.
[20] Badruddin Imam, m. Abdullah al
zarkasy, Al Burhan fi Ulum Al Quran, Tt, Lebanon: Dar Al Ma’rifah. Jilid 1, hal. 273.
[27] Windi Mellsarah, http://mellsarahwindy.blogspot.com/2013/03/pengertian-kedudukan-dan-fungsi-al-quran.html.
Diunduh pada tanggal 02 Maret 2014.
[30] http://balljaguar.blogspot.com/2012/12/funfsi-dan-kedudukan-al-quran.html.
Diunduh pada tanggal 02 Maret 2014
diunduh pada tanggal 02 Maret 2014.
No comments:
Post a Comment
Memberikan komentar yang baik adalah suatu pilihan dan keputusan yang bijak dan bermartabat. ^_^
Note: Only a member of this blog may post a comment.