Wednesday, April 3, 2019

WAHYU DAN AL-QUR’AN

WAHYU DAN AL-QUR’AN

PENDAHULUAN

Al-Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. lewat perantara malaikat Jibril sebagai mu'jizat. Al-Qur'an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu'amalah dan sebagainya. Firman Allah:

"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl : 89).

Mempelajari isi Al-qur'an akan menambah perbendaharaan baru, memperluas pandangan dan pengetahuan, meningkatkan perspektif baru dan selalu menemukan hal-hal yang selalu baru. Lebih jauh lagi, kita akan lebih yakin akan keunikan isinya yang menunjukan Maha Besarnya Allah sebagai penciptanya. Firman Allah:

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A'raf : 52).

Bersamaan dengan wahyu, maka fitrah inilah yang meninggikan derajat dan gaya berfikirnya seseorang, relevan dengan apa yang sesuai dalam memecahkan kesulitan pada waktu itu, yaitu pada waktu Rasul-rasul itu menyampaikan wahyu kepada kaumnya. Sehingga apa yang dicita-citakan itu akan lebih mudah mendapatkannya dengan Al-Qur’an sebagai pedoman bagi umat manusia di dunia.

PEMBAHASAN
Wahyu dan Al-Qur’an
A.      Wahyu
1.  Pengertian Wahyu
Menurut bahasa kata “wahyu” berarti “isyarat yang cepat, surat, tulisan, dan segala sesuatu yang disampaikan kepada orang lain untuk diketahui.[1]
Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan anggota badan.[2] Wahyu secara masdar (al-wahy) adalah tersembunyi dan cepat, jadi wahyu adalah penberitahuan secara tersembunyi dan cepat dan khusus di tujukan kepada orang yang di beri tahu tanpa diketahui orang lain. Wahyu menurut bahasa berarti suara, tulisan, isyarat, bisikan, paham dan juga berarti api.
Wahyu dapat juga diartikan “sebagai wasilah (cara) untuk menyampaikan sesuatu secara tersembunyi dalam waktu dekat”, akan tetapi pengertian wahu bukanlah terbatas hanya pada yang demikian saja. Wahyu menurut pengertian yang dikehendaki dalam hubungan dengan firman Allah ang diturunkan kepada Nabi dan Rasul adalah sebagai berikut Wahyu adalah hubungan gaib bersifat tersembunyi antara Allah dengan orang-orang yang telah di sucikan-Nya (Rasul & Nabi) dengan tujuan menurunkan kitab-kitab suci Samawi dengan perantara malaikat yang membawa wahyu (Jibril).[3]
Imam Muhammad Abduh dalam bukunya yang terkenal “Risalatut Tauhid” mendefinisikan : wahyu itu suatu pengetahuan (irfan) yang didapat oleh seseorang dan memeperoleh rahasianya, karena wahyu itu dapatlah dikatakan suatu keadaan yang tidak diketahui hakekatnya, melainkan oleh Nabi yang mendapat wahyu itu sendiri.[4]
Disebutkan dalam kitab al-masyariq bahwa wahyu itu pada asalnya adalah sesuatu yang diberitahukan dalam keadaan tersembunyi dan cepat. Yang dimaksud diketahui dengan cepat ialah dituangkan suatu pengetahuan ke dalam jiwa sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul pikiran dan muqoddimah.[5]
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Asy-Syuura ayat 51 sebagai berikut:

Artinya :“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”. (QS. Asy-syuura : 51).

Kalau dipahami lebih dalam, ayat diatas menjelaskan bahwa Allah berkomunikasi dengan manusia melalui tiga cara, yaitu dengan perantaraan wahyu, langsung bertemu dengan utusannya sebagaimana ketika nabi Muhammad SAW Isra’ Mi’raj, mengirim utusan sebagaimana ketika nabi Muhammad ketika menerima wahyu yang pertama kali.
Pengertian wahyu menurut bahasa mempunyai beberapa arti, antara lain sebagai berikut:[6]
a.  Berarti Ilham Gharizi atau Instink yang terdapat pada manusia atau binatang. Firman Allah:

Artinya : “Dan Tuhanmu telah mewahyukan (member instink) kepada lebah, supaya membuat (sarang-sarang) di bukit-bukit, di pohon-pohon, kayu, dan di (rumah-rumah) yang didirikan (manusia)." ( QS. Al-Nahl : 68).

b.  Berarti Ilham Fitri atau firasat yang hanya ada pada manusia dan tidak pada binatang. Firman Allah:

Artinya : “Dan Kami ilhamkan (berfirasat) kepada ibu Nabi Musa supaya menyusui dia (Musa).” (QS. Al-Qashshash: 7).

c.  Berarti tipu-daya dan bisikan setan. Firman Allah:

Artinya : “Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian.” (QS. Al-An’am:121).

d.  Berarti isyarat yang cepat secara rahasia, yang hanya tertuju kepada Nabi/Rasul Allah saja. Firman Allah:

Artinya : “Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu kepadamu, sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi sesudahnya.” (QS. An-Nisa : 163).

Dari urain diatas dapat diambil benang merah bahwa wahyu adalah isyarat, bisikan, insting, ilham dari Allah terhadap hamba yang telah dipilihnya yang selanjutnya disebut sebagai Nabi atau Rasul.
Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Abdullah Syahhatah dalam kitab ‘Ulumul Qur’an Wat Tafsir, mendefinisikan “wahyu menurut syarak ialah pemberitahuan Allah SWT kepada orang yang dipilih dari beberapa hamba-Nya mengenai berbagai petunjuk dan ilmu pengetahuan yang hendak diberitahukannya tetapi dengan cara yang tidak biasa bagi manusia”.[7]

2.  Macam-Macam Penyampaian Wahyu dan Kemungkinan Turunnya
Wahyu oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan peristiwa yang sangat besar. Turunnya merupakan peristiwa yang tidak disangka-sangka. Begitulah Allah memberikan titah-Nya kepada manusia terpilih, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.
Wahyu secara bahasa artinya adalah, pemberitahuan secara rahasia nan cepat. Secara syar'i, wahyu berarti pemberitahuan dari Allah kepada para nabiNya dan para rasul-Nya tentang syari'at atau kitab yang hendak disampaikan kepada mereka, baik dengan perantara atau tanpa perantara. Wahyu secara syar'i ini jelas lebih khusus, dibandingkan dengan makna wahyu secara bahasa, baik ditinjau dari sumbernya, sasarannya maupun isinya.
 Ada bermacam-macam wahyu syar'i, dan yang terpenting ialah sebagaimana penjelasan berikut [8].
a.  Taklimullah (Allah Azza wa Jalla berbicara langsung) kepada Nabi-Nya dari belakang hijab.
Yaitu Allah SWT menyampaikan apa yang hendak Dia sampaikan, baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tidur.
Sebagai contoh dalam keadaan terjaga, yaitu seperti ketika Allah Azza wa Jalla berbicara langsung dengan Musa Alaihissallam, dan juga dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pada peristiwa isra' dan mi'raj. Allah berfirman tentang nabi Musa :

Artinya : “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung". (QS. An-Nisaa` : 164).

Adapun contoh ketika dalam keadaan tidur, yaitu sebagaimana diceritakan dalam hadits dari Ibnu Abbas dan Mu'adz bin Jabal. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya “Aku didatangi (dalam mimpi) oleh Rabb-ku dalam bentuk terbaik, lalu Dia berfirman : "Wahai, Muhammad!" Aku menjawab, "Labbaik wa sa'daika." Dia berfirman, "Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat itu?" Aku menjawab, "Wahai, Rabb-ku, aku tidak tahu, "lalu Dia meletakkan tanganNya di kedua pundakku, sampai aku merasakan dingin di dadaku. Kemudian, aku dapat mengetahui semua yang ada di antara timur dan barat. Allah Azza wa Jalla berfirman, "Wahai, Muhammad!" Aku menjawab, "Labbaik wa sa'daika!" Dia berfirman, "Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat itu?" Aku menjawab,"…". 
Dalam hal wahyu ini, para ulama salaf, Ahli Sunnah wal-Jama'ah memegangi pendapat, bahwa Nabi Musa Alaihissallam dan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keduanya pernah mendengar kalamullah al-azaliy al-qadim, yang merupakan salah satu sifat di antara sifat-sifat Allah. Pendapat ini sangat berbeda dan tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian orang, bahwa yang terdengar adalah bisikan hati atau suara yang diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla pada sebatang pohon.
b.  Allah Azza wa Jalla menyampaikan risalahNya melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan ini meliputi beberapa cara, yaitu :
1.    Malaikat Jibril menampakkan diri dalam wujud aslinya. Cara seperti ini sangat jarang terjadi, dan hanya terjadi dua kali. Pertama, saat Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah masa vakum dari wahyu, yaitu setelah Surat al-'Alaq diturunkan, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menerima wahyu beberapa saat. Masa ini disebut masa fatrah, artinya kevakuman. Kedua, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya, yaitu saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dimi'rajkan.
2.    Malaikat Jibril Alaihissallam terkadang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam wujud seorang lelaki. Biasanya dalam wujud seorang lelaki yang bernama Dihyah al-Kalbiy. Dia adalah seorang sahabat yang tampan rupawan. Atau terkadang dalam wujud seorang lelaki yang sama sekali tidak dikenal oleh para sahabat. Dalam penyampaian wahyu seperti ini, semua sahabat yang hadir dapat melihatnya dan mendengar perkataannya, akan tetapi mereka tidak mengetahui hakikat permasalahan ini. Sebagaimana diceritakan dalam hadits Jibril yang masyhur, yaitu berisi pertanyaan tentang iman, Islam dan ihsan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Di awal hadits ini, 'Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu menceritakan:
“Pada suatu saat, kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat tanda-tanda melakukan perjalanan jauh, dan tidak tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya, sampai dia duduk di dekat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam”, kemudian di akhirnya, yaitu sesaat setelah orang itu pergi, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Umar Radhiyallahu 'anhu : "Wahai 'Umar, Tahukah engkau, siapakah orang yang bertanya tadi?" Aku menjawab, "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui," (kemudian) Rasulullah bersabda, "Dia itu adalah Malaikat Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian din (agama) kalian." 
Ini menunjukkan, meskipun para sahabat dapat melihatnya dan bisa mendengar suaranya, namun mereka tidak mengetahui jika dia adalah Malaikat Jibril yang datang membawa wahyu. Mereka mengerti setelah diberitahu oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
3.    Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ia tidak terlihat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui kedatangan Malaikat Jibril dengan suara yang mengirinya. Terkadang seperti suara lonceng, dan terkadang seperti dengung lebah. Inilah yang terberat bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga dilukiskan saat menerima wahyu seperti ini, wajah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berubah. Meski pada cuaca yang sangat dingin, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bermandikan keringat, dan pada saat itu bobot fisik Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berubah secara mendadak.
      Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit Radhiyallahu 'anhu, dia berkata : "Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara itu paha beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berada di atas pahaku. Lalu paha beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi berat, sampai aku khawatir pahaku akan hancur"
.
c.  Wahyu disampaikan dengan cara dibisikkan ke dalam kalbu.
Yaitu Allah Azza wa Jalla atau Malaikat Jibril meletakkan wahyu yang hendak disampaikan ke dalam kalbu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam disertai pemberitahuan bahwa ini merupakan dari Allah Azza wa Jalla. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab al-Qana'ah, dan Ibnu Majah, serta al-Hakim dalam al-Mustadrak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: "Sesungguhnya Ruhul Quds (Malaikat Jibril) meniupkan ke dalam kalbuku : "Tidak akan ada jiwa yang mati sampai Allah Azza wa Jalla menyempurnakan rizkinya. Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, dan carilah rizki dengan cara yang baik. Janganlah keterlambatan rizki membuat salah seorang di antara kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang disisi Allah Azza wa Jalla tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mentaatiNya".
d.   Wahyu diberikan Allah Azza wa Jalla dalam bentuk ilham. 
Yaitu Allah memberikan ilmu kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, saat beliau berijtihad pada suatu masalah.
e.  Wahyu diturunkan melalui mimpi. 
Yaitu Allah Azza wa Jalla terkadang memberikan wahyu kepada para nabi-Nya dengan perantaraan mimpi. Sebagai contoh, yaitu wahyu yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalllam agar menyembelih anaknya.
Demikian cara-cara penerimaan wahyu Allah Azza wa Jalla yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Semua jenis wahyu ini dibarengi dengan keyakinan dari si penerima wahyu, bahwa apa yang diterima tersebut benar-benar datang dari Allah Azza wa Jalla, bukan bisikan jiwa, apalagi tipu daya setan.
3.    Macam-macam Cara Wahyu yang Pertama Diterima Rasulullah
Allah memberikan wahyu yang pertama kepada Rasulullah Saw. adalah dengan tanpa melalui perantaraan dan perantaraan.
1.  Tanpa Melalui Perantaraan, yaitu : Mimpi yang benar didalam tidur.
Dari Aisyah r.a, dia berkata : “sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi pada Rasulullah         SAW adalah mimpi yang benar diwaktu tidur, beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi         itu datang bagaikan terangnya di waktu pagi hari”.
Di antara alasan yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para Nabi adalah wahyu yang wajib diikuti, ialah mimpi Nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya, Ismail. ( As-Saffat : 101-112 ).
Mimpi yang benar itu tidaklah khusus bagi para rasul saja, mimpi yag demikian itu tetap ada pada kaum mukminin, sekalipun mimpi itu bukan wahyu. Hal-itu seperti dikatakan oleh Rasulullah SAW : “Wahyu telah terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin”.
Mimpi yang benar bagi para nabi diwaktu tidur itu merupakan bagian pertama dari sekian macam cara Allah berbicara seperti yang disebutkan didalam firman- Nya:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”. (Asy-Syuraa : 51 ).

2.  Melalui Perantaraan Malaikat
Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul:
Cara pertama: Datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat buat Rasul.
Apa bila wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW dengan cara ini maka ia mengumpulkan semua kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal-dan memahaminya. Dan mungkin suara itu sekali suara kepakan sayap-sayap malaikat, seperti diisyaratkan didalam hadis .
Cara kedua: Malaikat menjelma kepada rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara ini lebih ringan dari pada yang sebelumnya. Karena ada kesesuaian antara pembicara dan pendengar. Rasul merasa senang sekali mendengar dari utusan pembawa wahyu itu. Karena merasa seperti manusia yang berhadapan saudaranya sendiri.
Keduanya cara di atas disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mu`minin r.a bahwa haris bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hal-itu dan jawab Nabi : “Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, dan akupun memahami apa yang ia katakan”.
Aisyah juga meriwayatkan apa yang dialami Rasulullah SAW berupa kepayahan, dia berkata : “Aku pernah melihatnya tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang amat dingin, lalu malaikat itu pergi. Sedang keringatpun mengucur dari dahi Rasulullah”.
4.    Perbedaan Wahyu Ilham dan Ta’lim
Ketiga istilah ini memiliki kesamaan, bahwa semuanya sama-sama menunjukkan pengetahuan yang bersumber dari Allah SWT. Perbedaannya adalah, wahyu hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, yaitu para Nabi dan Rasul; sedangkan ilham dan ta’lim (ilmu) diberikan oleh Allah kepada semua manusia.
Pengertian ilham, menurut pendapat sebagian ulama, sebagaimana dikemukakan oleh Hasbi Ash-Shidiqhi, ialah “menuangkan suatu pengetahuan kedalam jiwa yang menuntut penerimanya supaya mengerjakannya, tanpa didahului dengan ijtihad dan penyelidikan hujjah-hujjah agama”.[9] Sejalan dengan pendapat ini, Al-Jurjani dalam Kitāb At-Ta’rīfāt  mendefinisikan, bahwa ilham ialah “sesuatu yang dilimpahkan ke dalam jiwa dengan cara pemancaran, ia merupakan ilmu yang ada di dalam hati/jiwa, dan dengannya seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu tanpa didahului dengan pemikiran”.[10]
Dalam pengertian ini hampir sama dengan pengertian instink yang dikenal-dalam dunia Psikologi, yaitu “pola tingkah laku yang merupakan karakteristik-karakteristik spesi tertentu; tingkahlaku yang diwariskan dan dilakukan secara berulang-ulang yang merupakan khas spesi tertentu. Bahkan menurut Sigmund Freud, ia merupakan sumber energi atau dorongan primal-yang tidak dapat dipecahkan. Lebih lanjut Freud menambahkan, instink itu terbagi dua: instink kehidupan (Eros) dan instink Kematian (Tahanatos)”.
Dua macam instink (ilham) yang terdapat dalam jiwa setiap manusia juga diungkapkan dalam Aquran dengan sebutan Fujur dan Taqwa. Sebagaimana termaktub dalam Alquran, surat Asy-Syams : 8.

Artinya : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya”. (QS. Al-Syams : 8).

Dua macam instink yang disebutkan dalam ayat di atas adalah instink atau kecendrungan untuk berbuat buruk (Fujur) dan instink atau kecendrungan untuk berbuat baik (Taqwa). Kedua macam ini bersifat potensial. Artinya, setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Karena sifatnya yang potensial, maka aktualisasi instink ini tergantung pada kecendrungan/kemauan manusia untuk mengaktualkan instink mana dari kedua instink tersebut. Jika seorang manusia memiliki kecendrungan untuk mengaktualkan instink keburukan (fujur), maka yang akan dominan dalam dirinya adalah sifat kejahatan; sehingga jadilah dia sebagai penjahat, pengingkar terhadap perintah dan larangan Allah. Demikian pula sebaliknya, jika instink kebaikan yang dikembangkan/diaktualkan, maka jadilah dia sebagai manusia yang baik, patuh terhadap perintah dan larangan Allah.
Dari pengertian ini dapat disimpulkan, bahwa perbedaan antara kedua istilah yang disebutkan terakhir (ilham dan ta’lim) terletak pada proses/cara memperolehnya. Ilham hanya dapat diperoleh atas kehendak Allah, tanpa usaha manusia; sedangkan ta’lim (ilmu) harus melalui usaha manusia; kecuali ilmu ladunniy yang dalam pandangan ahli tasawwuf proses perolehannya sama dengan ilham.[11]
B.       Al-Qur’an
1.  Pengertian Al-Qur’an
a.  Etimology
Nama Al-Qur’an muncul bukan hasil dari pemikiran manusia, namun nama Al-Qur’an sendiri itu muncul di dalam kitab itu sendiri. Berawal dari pemikiran itulah muncul sebuah pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah hasil definisi dari sebuah kata, namun Al-Qur’an adalah sebuah isim alam yang diiberikan Allah kepada kitab suci ini. Diantaranya adalah pendapat dari imam Syafi’i yang merasa tidak perlu mengupas asal-usul pemberian nama ini, karena Allah lah yang memang memberi nama demikian, sama saja ketika Allah memberi nama Taurat dan Injil kepada nabi Musa dan nabi Isa as.[12]
Al-Qur’an menurut bahasa adalah bacaan atau yang dibaca. Al-Qur’an adalah “mashdar” yang diartikan dengan isim maf’ul, yaitu maqru’ (yang dibaca). Pengertian secara bahasa ini tidak disepakati sepenuhnya oleh para Ulama sebab sebagian ulama menyatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah timbul dari kata-kata apapun, melainkan dia adalah nama khusus bagi “Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW sebagaimana halnya nama yang diberikan-Nya untuk kitab suci; Taurat, Zabur dan Injil”. Bila dibaca “Qur’an” (tanpa al-di depannya) memang berarti nama bagi segala yang dibaca. Sedangkan ‘Al-Qur’an” hanyalah tertuju kepada firman Allah yang diturunkan dalam bahasa arab itu.[13]
Dan apabila Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti (amalkan) bacaannya”.[14]
Para ulama telah berbeda pendapat didalam menjelaskan kata alqur’an dari sisi derivasi (isytiqaq) yaitu cara melafalkan apakah memakai hamzah atau tidak, dan apakah ia merupakan kata sifat atau kata jadian. Para ulama yang mengatakan bahwa cara melafalkannya menggunakan hamzah pun telah terpecah menjadi dua pendapat.
Sebagian diantaranya berpendapat bahwa Al-lihyani, berkata bahwa kata “Al-Qur’an” merupakan kata dasar dari قرأ (membaca). Kata jadian ini kemudian dijadikan sebagai nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi kita, Muhammad SAW. Penamaan ini masuk dalam kategori “tasmiyah al-maf’ul bi al-mashdar” (Penamaan isim maf’ul dengan isim mashdar). Mereka merujuk firman Allah pada surat Al-Qiyamah ayat: 17-18.
Sebagian dari mereka, diantaranya Al-zujaj, menjelaskan bahwa kata “Al-Qur’an” merupakan kata sifat yang berasal dari kata dasar “al-qara” yang artinya menghimpun. Kata sifat ini kemudian dijadikan nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Karena kitab itu menghimpun surat, ayat, kisah, perintah dan larangan. Atau karena kitab ini menghimpun intisari kitab-kitab suci sebelumnya.
Para ulama yang mengatakan bahwa cara melafalkan kata Alqur’an dengan tidak menggunakan hamzah pun terpecah menjadi dua kelompok :
a. Sebagian dari mereka, diantaranya adalah Al-Asy’ari, mengatakan bahwa kata Al-Qur’an diambil dari kat kerja “Qarana” (menyertakan) karena Alqur’an menyertakan surat, ayat-ayat dan huruf-huruf.
b. Alfarra’ menjelaskan bahwa kata “Alqur’an” diambil dari kata dasar “Qara’in” (penguat) karena Alqur’an terdiri dari ayat-ayat yang saling menguatkan, dan terdapat kemiripan antara satu ayat dan ayat-ayat lainnya.[15]
b.  Terminology
Definisi secara terminology juga banyak pendapat yang mendefinisikannya, salah satu pendapat yang disepakati ulama dari ahli ushul adalah kalam Allah yang tiada tandingannya (mu’jizat), yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, penutup para nabi dan Rasul dengan perantaraan malaikat Jibril as. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diskhhiri dengan surat Al-Nash dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah.[16]
Sedangkan menurut Al-Jurjani, yaitu kitab yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yang ditulis didalam mushaf dan yang diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.[17]
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah metode penurunan wahyu yang lafal dan maknanya berasal dari Allah, karena ketika malaikat Jibril memberikan sebuah ayat Al-Qur’an sudah dalam bentuk kata-kata sebagaimana yang disampaikan oleh para sahabatnya.
Al-Qur’an adalah risalah Allah kepada manusia semuanya. Banyak nash yang menunjukkan hal itu, didalam Al-Qur’an salah satunya sebagai berikut [18]:

Artinya : Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. al-a’raf : 158).

Artinya : ”Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. (QS. al-furqon : 1).

2.  Nama-nama Lain dari Al-Qur’an
Allah SWT menyebut Al-Qur’an dengan sebutan yang banyak sekali, yang menunjukkan keagungan, keberkatan, pengaruhnya dan keuniversalannya serta menunjukkan bahwa ia adalah pemutus bagi kitab-kitab terdahulu sebelumnya.
Al-Qur’an sebagaimana dimaksud di atas memiliki nama-nama yang bukan hanya Al-Qur’an saja, tetapi memiliki nama-nama lainnya, hanya saja nama yang paling populer adalah Al-Qur’an. Nama-nama lainnya tersebut secara rinci dijelaskan oleh as-Suyuti dalam Kitab Al-Itqannya yang terkenal-sebanyak lima puluh nama, yaitu Al-Kitab, Al-Mubin, Al-Karim, Al-Kalam, An-Nur, Al-Huda, Ar-Rahmah, Al-Furqan, Asy-Syifa’, Al-Mau’idzah, Az-Zikir, Al-Mubarak, Al-Aliy, Al-Hakim, Al-Hikmah, Al-Muhaimin, Al-Mushaddiq, Al-Habl, Ash-Shirotol Mustaqim, Al-Qoyyim, Al-Qaul, Al-Fashl, An-Naba’ul Adzim, Ahsanul Hadits, Al-Matsany, Al-Mutaqabil, At-Tanzil, Ar-Ruh, Al-Wahyu, Al-Arabiyyu, Al-Bashair, Al-Bayan, Al-Ilmu, Al-Haqqu, Al-Hadi, Al-Ajab, At-Tadzkirah, Al-Urwatul Wutsqa, Ash-Shidiq, Al-Adl, Al-Munadi Yunadi Lil Iman, Al-Busyraa, Al-Majiid, Az-Zabuur, Al-Basyiir, An Nadziir, Al-Aziiz, Al-Balaagh, Ahsanul Qashash, dan Shuhufun Mukarromah.[19]
Nama-nama tersebut sebagian daripadanya diambil dari nama-nama Allah SWT yang terambil dalam Asma’ul Husna. Penamaan Al-Qur’an dengan nama-nama ini juga menggambarkan sebagian dari sifat-sifat yang dimiliki oleh Al-Qur’an. Dengan demikian maka pemberian nama-nama tersebut adalah memiliki alasan-alasan yang terpikirkan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sedangkan Al-Qadhi Abu al-ma’aliy Aziziy bin Abdu al-Malik, seperti dikutip al-Zarkasyi didalam Al-Burhan mengatakan AlQur’an memiliki 55 buah nama.[20]  Untuk mendukung pendapatnya ini, Ibnu Abd al-Malik menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Diantaranya adalah:
Kitab (Al-Dukkan, ayat 1 dan 2), Qur’an (Al-Waqi’ah, ayat 77), Kalam (Al-Taubah,ayat 6), Nur (Al-Nisa’, ayat 174), Hudan (Luqman, ayat 3), Rahmah (Yunus, ayat 58), Furqan (Al-Furqan, ayat 1), Syifa’ (Al-Isra’, ayat 82), Maw’izhah (Yunus, ayat 57), Dzikra (Al-Anbiya’, ayat 50), Karim (Al-Waqi’ah, ayat 77), Ali (Azzukhruf, ayat 41),  Hikmah (Al-Qamar, ayat 5), Hakim (Yunus, ayat 1 dan 2), Muhaymin (Al-Ma’idah, ayat 48), Mubarak (Shad, ayat 29), Habl (Ali Imron, ayat 103), Shirath (Al-An’am, ayat 153), Al-Qayyim (Al-Kahfi, ayat 1 dan 2), Fadhla (Al-Thariq, ayat 13)
Dari beberapa pendapat diatas, maka sebagian yang akan kami jelaskan, diantaranya:
a.     Al-Kitab (buku)

Artinya : Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah: 2).

b.     Al-Furqan (pembeda benar salah)[21] 

Artinya : “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. (QS. Al-Furqan:1)

c.     Adz-Dzikr (pemberi peringatan)

Artinya : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr : 9)

d.     Al-Mau'idhah (pelajaran/nasehat)

Artinya : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 57)

e.  Asy-Syifa' (obat/penyembuh)

Artinya : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 57)

f.       Al-Hukm (peraturan/hukum)

Artinya : Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. Ar-Ra'd : 37).

g.     Al-Hikmah (kebijaksanaan)

Artinya: Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS. Al-Israa' :39).

h.     Al-Huda (petunjuk)

Artinya : Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur'an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin : 13).

i.       At-Tanzil (yang diturunkan)[22]

Artinya : Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. (QS. Asy Syu’araa’: 192).

j.       Ar-Rahmat (karunia)

Artinya : Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. An Naml : 77).

k.  Ar-Ruh (ruh)

Artinya : Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy Syuura : 52).

l.       Al-Bayan (penerang)

Artinya : (Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran : 138).

m.    Al-Kalam (ucapan/firman)

Artinya : Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At Taubah : 6).

n.     Al-Busyra (kabar gembira)

Artinya : Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. An-Nahl : 102).

o.     An-Nur (cahaya)

Artinya : Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. (QS. An-Nisaa' : 174).

p.     Al-Basha'ir (pedoman)

Artinya : Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS. Al-Jaatsiyah : 20).

q.     Al-Balagh (penyampaian/kabar)

Artinya : (Al-Qur'an) ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal-mengambil pelajaran. (QS. Ibrahim : 52).

r.      Al-Qaul (perkataan/ucapan)

Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al-Qur'an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. (QS. Al-Qashash : 51) .

3.    Garis Besar Kandungan Al-Qur’an
Al-Quran sebagai kitab suci umat islam merupakan kumpulan firman Allah (kalam Allah) yang diwahyukan kepada nabi muhammad SAW yang mengandung petunjuk-petunjuk bagi umat islam.dan diantara tujuan diturunkanya al-quran adalah untuk menjadi pedoman bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup, baik dunia maupun diakhirat kelak. Dr. M. Quraish Shihab, dalam wawasan Al-Quran menyebutkan secara lebih rinci tentang tujuan diturunkanya AL-Quran menjadi delapan, diantaranya adalah:
a.  Untuk membersihkan dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta memantapkan keyakinan tentang ke-Esa-an yang sempurna bagi Tuhan Semesta Alam.
b.  untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab,yakni bahwa umat manusia merupakan umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada allah SWT dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.
c.   untuk menciptakan persatuan dan kesatuan, bukan saja antar suku atau bangsa, tetapi kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan di dunia dan akhirat, natural dan supranatural, kesatuan ilmu, iman, dan rasio, kesatuan kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan kemerdekaan dan determinasi kesatuan sosial, politik, dan ekonomi, dan kesemuanya berada dibawah ke-Esa-an Allah SWT.
d.  untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin hikmah kebijaksanaan.
e.  untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit penderitaan hidup, serta pemerasan manusia atas manusia dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan juga agama.
f.    untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia.
g.  untuk memberikan jalan tengah antara falsafah monopoli kapitalisme dengan falsafah kolektif komunisme, menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
h.  untuk menekankan peranan ilmu dan tekhnologi, guna menciptakan suatu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia dengan panduan Nur Ilahi.[23]
Al-Quran diturunkan tidak hanya untuk umat tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang masa. Hal-ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Saba’:28

Artinya: “Dan kami tidak mengutus engkau (hai Muhammad) melainkan kepada umat manusiaseluruhnya sebagai pengemban berita baik dan juru ingat kepada sekalian manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S.Saba’ : 28).

Ayat ini menunjukan bahwa tidak suatu masyarakat pun yang dikecualikan ajaran islam yang disampaikan nabi Muhammad SAW. Allah SWT telah menetapkan bahwa risalah ketuhanan ditutup dengan kerasulan Muhammad. Allah SWT juga menetapkan risalah Muhammad itu bersifat universal, artinya ditujukan bagi seluruh umat manusia dan berbagai bangsa dan bahasa, kepada kaum yang masih keadaan primitive, maupun keadaan kaum yang telah mencapai peradaban dan kebudayaan yang tinggi bagi seorang pertapa, orang tidak begitu mengindahkan harta, maupun bagi seoarang usahawan, orang yang kaya maupun yang miskin, yang pandai maupun yang bodoh, yang meliputi segala lapangan kegiatan manusia, baik yang hidup semasa dengannya, maupun yang datang kemudian sampai hari kiamat.
Al-Quran secara pribadi telah memberikan informasi yang sangat jelas mengenai isi /kandunganya, tentang pengetahuan dan pelajaran pelajaran yang sangat luas yang terkandung didalamnya. hal-ini dapat dijumpai dalam dua tempat, yaitu dalam Q.S al-kahfi: 109, dan dalam Q.S. Luqman: 27, Allah SWT berfirman:

Artinya :“Katakanlah: sehingga lautan menjadi tinta untuk menuliskan firman tuhanku,akan habislah lautan sebelum firman tuhanku habis ditulis; sekalipun kami berikan tambahanya sebanyak itu pula”. (QS. al-kahfi :109).

Artinya : “Dan seandainya pohon-pohon dibumi menjadi pena dan lautan menjadi tinta,ditambahkan sesudahnya tujuh lautan lagi, niscaya kalam allah tidak akan habis-habisnya”. (QS. Luqman : 27).

Secara garis besar, kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
a.  Ayat-ayat yang berhubungan dengan keimanan, baik iman kepada Allah, malaikat, kitab kitab Allah, Rasul-Rasul Allah dan hari akhir. Atau dapat dikatakan kandungan yang pertama adalah pembahasan ilmu kalam (tauhid) dan ushul Al-din.
b.  Ayat-ayat yang berhubungan dengan pekerjaan-pekerjaan hati, seperti menganjurkan berakhlak mulia. Atau dapat dikatakan kandungan yang kedua adalah pembahasan akhlak.
c.    Ayat-ayat yang berhubungan dengan pekerjaan anggota badan seperti perintah-perintah, larangan-larangan, pilihan-pilihan. Atau dapat dikatakan kandungan yang ketiga adalah pembahasan fiqih.[24]
4.  Kedudukan dan Fungsi  Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat bagi Rasulullah Muhammad Saw sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya, dan bernilai abadi, sebagai pembeda (furqan), pemberi peringatan, kabar gembira dan pengobat.
Diantara fungsi Al-Qur’an yang terpenting adalah [25]:
a.  Sebagai mukjizat
Mukjizat ialah suatu kejadian luar biasa dan tidak mustahil, yang terjadi pada Rasul Allah SWT. Untuk membuktikan bahwa, beliau benar Rasul-Nya dan dengan izin Allah SWT. Hal itu di perlukan, karena setiap Rasul Allah mempunyai mukjizat dan di butuhkan oleh kaumnya.
Umpamanya permintaan  raja Fir’aun Mesir kepada Rasul musa kalimullah, dalam (surat Al-a’raaf : 106).
Fir'aun menjawab: "Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, Maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar". (QS. Al-a’raaf : 106).

Demikian pula dalam Al-Qur’an surat Asy-syu’araa: 30-31:
Musa berkata: "Dan apakah (kamu akan melakukan itu) kendatipun Aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata ?" (QS. Asy-syu’araa’ : 30).

Fir'aun berkata: "Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar". (QS. Asy-syu’araa’ : 31).
b. Sebagai sumber segala macam aturan tentang hukum, sosial, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, moral dan sebagainya, yang harus dijadikan “way of life” bagi seluruh umat manusia untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya.             (QS. Al-Ahzab : 36).

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-ahzb : 36).

c.  Sebagai hakim yang diberi wewenang oleh Allah SWT memberikan keputusan terakhir mengenai beberapa masalah yang diperselisihkan dikalangan pemimpin-pemimpin agama dari bermacam-macam agama dan sekaligus sebagai korektor yang mengoreksi kepercayaan-kepercayaan / pandangan-pandangan/ anggapan-anggapan yang salah dikalangan umat beragama, termasuk kepercayaan-kepercayaan yang salah, yang terdapat dalam Byble atau kitab lain yang dipandang suci oleh para pemeluknya.
Menurut pandangan Islam bahwa Nabi dan Rasul adalah maksum, artinya mereka pasti terhindar dari melakukan perbuatan yang hina dan tercela seperti berdusta, berzina dan menyembah berhala. (QS.  An-Nahl : 65).

“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)”. (QS.  An-Nahl : 65).

d.  Sebagai pengukuh (penguat) yang mengukuhkan dan menguatkan kebenaran keberadaan para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. Hanya saja ajaran-ajaran para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW beserta kitab-kitab sucinya, sudah tidak orisinal lagi, sebab tidak sedikit yang telah diubah oleh para pemimpinya. (QS. Al-Maidah:48 ; QS. An-Nisa:45).[26]

“Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu”. (QS. Al-Maidah : 48).

Fungsi Al-Qur’an yang lain, antara lain :
a.  Al-Qur'an berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
b.  sebagai rahmat atau bentuk kasih sayang dari Allah bagi umat manusia.
c.   sumber pokok ajaran islam. [27]
Ada juga Al-Qur’an banyak menceritakan kisah-kisah di dalamnya, bukan tanpa punya tujuan dan fungsi. Adapun tujuan kisah dan fungsi dalam Al-Qur’an antara lain adalah [28]:
a.  Untuk menunjukkan bukti ke-Rasul-an nabi Muhammad SAW. Sebab beliau meski tidak pernah belajar tentang sejarah umat-umat dulu, tapi beliau dapat tahu tentang kisah tersebut. Semua itu tidak lain belajar dari wahyu Allah SWT.
b.  Untuk dijadikan Uswatun Khasanah, suri tauladan bagi kita semua, yaitu dengan mencontoh akhlak terpuji dari para nabi dan orang-orang salih yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
c.   Untuk mengokohkan hati Nabi Muhammad dan umatnya dalam beragama Islam dan menguatkan kepercayaan orang-orang mukmin tentang datangnya pertolongan Allah SWT dan hancurnya kebatilan. (Q.S. Hud : 120).

“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S. Hud : 120).

d.  Mengungkap kebohongan ahli Al-Kitab yang telah menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni.
e.  Untuk menarik perhatian para pendengar dan menggugah kesadaran diri mereka melalui penuturan kisah.
f.    Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama Allah SWT, yaitu bahwa semua ajaran para rasul intinya adalah Tauhid.
Muhammad Husain Thabathaba'i[29] menyebutkan tiga posisi Al-Qur’an yaitu sebagai undang-undang paling utama dalam kehidupan, menentukan jalan hidup manusia, dan sebagai sandaran kenabian.
Adapun kedudukan Al-Qur’an, antara lain sebagai berikut :
a.  Kitab berita dan kabar
Sebagai kitab berita dan khabar Al-Qur’an banyak berbicara tentang orang-orang terdahulu, baik yang shalih maupun yang thalih. Al-Qur’an berbicara tentang perjuangan para Nabi dan pertolongan Allah atas mereka, agar umat ini mau mengikuti perjuangan mereka. Dan juga menceritakan tentang orang-orang durhaka dan akibat buruk dari kedurhakan mereka.
Al-Qur’an bercerita tentang fir’aun dan akibat kekufurannya yaitu di binasakan dan di tenggelamkan di laut merah beserta bala tentaranya. Al-Qur’an juga bercerita tentang Qarun dan Kebakhilannya hingga Allah tenggelamkan diri dan hartanya kedalam bumi, dan masih banyak contoh lainnya.
b.  Kitab hukum syariat dan Perundang-undangan
Sebagai pedoman hidup manusia, Al-Qur’an, memuat hukum-hukum dan undang-undang untuk ditaati, baik hukum amaliah seperti :
1)  Hukum Ibadah
yaitu hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya (hablum minallah, baik ibadah mahdhoh (ibadah yang disyari’atkan dan telah ditetapkan tata caranya oleh Nabi seperti shalat, puasa, haji, dll.) maupun ibadah ghoiru mahdhoh (ibadah secara umum).
2)  Hukum Mu’amalat
Yaitu hukum dan perundang-undangan yang mengatur hubungan antara manusia denngan manusia lainnya (hablum minannas), Hukum mualamat terbagi kepada :
a)  Hukum Ahwal-Syaksiyah
Yaitu hukum yang sangat terkait erat dengan pribadi setiap individu muslim sejak di lahirkan hingga wafatnya, seperti nikah, thalaq dll.
b)  Hukum Mu’amalah Madaniyah
Yaitu hukum-hukum jual-beli, sewa menyewa dll.
c)  Hukum acara
d)  Hukum Internasional
e)  Hukum Ekonomi/keuangan negara
3)  Hukum Hudud & Jinayah (pidana)
Yaitu hukum yang di syari’atkan dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan kehormatan.[30]
c.   Kitabul Jihad (Kitab Jihad)
Al-Qur’an menekankan beberapa persoalan penting dan salah satunya adalah masalah jihad. Al-Qur’an menyeru umat muslim agar berjihad seperti menghindar dari melampaui batas, batas-batas jihad, kemulian bagi mujahidin, kecaman terhadap mereka yang tertinggal-dari medan jihad, lari dari jihad, sistem jihad dan aturannya, sholat dan peperangan, peperangan dalam bulan haram, bai’ah, tawanan dan sebagainya.
d.  Kitabul Tarbiyah (Kitab Tarbiyah)
Al-Qur’an mendidik jiwa-jiwa manusia menjadi jiwa-jiwa yang mempunyai kemuliaan diri, mandiri, bebas dari penghambaan sesama makhluk, bermasyarakat, beradab dan tahu nilai-nilai murni sebagai manusia yang berperan sebagai khairu ummah.
e.  Minhajul Hayah (Pedoman Hidup)
Allah memerintahkan agar manusia menerima Al-Qur’an dengan tidak ragu-ragu, dan meyakini kebenarannya, sebagai petunjuk dan pedoman hidup.
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Quran itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. (QS. As-Sajdah : 23).

Al-Qur’an merupakan petunjuk, cahaya, tuntunan hidup manusia, yang akan menghantarkan setiap manusia dari kegelapan menuju terang, dari jahil menuju cahaya iman.
f.    I’jaz Ilmi
Menurut Al-Ghazali Ilmu-dalam artian akademis-bukanlah objek Al-Qur’an. Tetapi yang menjadi objek Al-Qur’an adalah manusia. Manusia merupakan objek formal-dan ilmu merupakan objek material. Al-Qur’an merupakan I’jaz ilmi karena ia menempatkan manusia ditengah etos ilmu dan membuka pintu-pintunya untuk mengkaji ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an merupakan kitab yang berisikan petunjuk bagi manusia dengan banyak bukti yang diungkapkannya. Al-Qur’an tentang alam dan manusia sejalan dengan ilmu, sebab objek ilmu adalah alam dan manusia. Maka adanya keparalelan objek tersebut sejalan antara Al-Qur’an dengan ilmu.[31]


 KESIMPULAN

Wahyu adalah isyarat, bisikan, insting, ilham dari Allah terhadap hamba yang telah dipilihnya yang selanjutnya disebut sebagai Nabi atau Rasul.
Macam-macam wahyu berdasarkan cara turunnya :
a.  Taklimullah
b.  Malaikat Jibril
c.   Bisikan dalam hati
d.  Ilham
e.  Mimpi
Wahyu, Ilham dan ta’lim, istilah ini memiliki kesamaan, bahwa semuanya sama-sama menunjukkan pengetahuan yang bersumber dari Allah SWT. Perbedaannya adalah, wahyu hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, yaitu para Nabi dan Rasul; sedangkan ilham dan ta’lim (ilmu) diberikan oleh Allah kepada semua manusia. Perbedaan antara kedua istilah yang disebutkan terakhir (ilham dan ta’lim) terletak pada proses/cara memperolehnya. Ilham hanya dapat diperoleh atas kehendak Allah, tanpa usaha manusia; sedangkan ta’lim (ilmu) harus melalui usaha manusia; kecuali ilmu ladunniy yang dalam pandangan ahli taSawwuf proses perolehannya sama dengan ilham.
Al-Qur’an merupakan sebuah metode penurunan wahyu yang lafal-dan maknanya berasal-dari Allah, karena ketika malaikat Jibril memberikan sebuah ayat Al-Qur’an sudah dalam bentuk kata-kata sebagaimana yang disampaikan oleh para sahabatnya.
Selain nama Al-Qur’an yang sering disebutkan dalam kitab tersebut sebagaimana yang sering dikenal-oleh mayoritas muslim, masih ada beberapa nama yang juga dirujukkan kepada Al-Qur’an. Menurut Al-Qodhi Abu al-Ma’aly ‘Aziziy bin Abdul Malik mengatakan Al-Qur’an memiliki 55 buah nama, diantaranya adalah: al-kitab, quran, kalam, adzikr, al-furqan dan lain-lain.
Secara garis besar isi kandungan dalam Al-Qur’an meliputi :
a.  Ilmu Kalam (Tauhid)
b.  Akhlak
c.   Fiqih
Diantara fungsi Al-Qur’an
a.  Sebagai Mukjizat
b.  Sebagai Sumber Hukum
c.   Sebagai Hakim
d.  Sebagai Penguat (Pengukuh)
Adapun kedudukan Al-Qur’an antara lain :
a.  Kitab berita dan kabar
b.  Kitab hukum syariat dan perundang-undangan
c.   Kitab jihad
d.  Kitab tarbiyah
e.  Kitab Minhajul Hayah
f.    Kitab I’jaz Ilmi
  

DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Djalal, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2011.
al-Kudhori, Muhammad, Tarikh Tasyri’ Islami, Surabaya, Al-Hidayah, 2003
al-Qatan, Manna Khalil, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Jakarta, Litera Antar Nusa, 2002.
al-zarkasy, Badruddin Imam, M. Abdullah, Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an, Tt, Lebanon, Dar Al-Ma’rifah.
ash-Shabuuny, Muhammad Ali, Studi Ilmu Al-Quran, Tt, Bandung, CV. Pustaka Setia.
ash-Shidiqhi, Hasbi, Ilmu Al-Qur’an & Tafsir, Semarang, PT.Pustaka Rizki Putra, 2009.
ash-Shidiqhi, Hasbi, Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Jakarta, Bulan Bintang, 1980.
as-Sayuthi, Jalaluddin Abdurrahman,  Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an, Tt, Cairo, Darul Fikri.
as-Shalih, Shubhi, Mahahidts file ‘Ulumil Qur’an.
Dahlan, Zaini, Dkk, Mukadimah Al-Qur’an dan Tafsirnya, Yogyakarta, PT. Dana Bakti Wakaf, 1991.
Ichwan, Muhammad Nor, Memasuki Dunia Al-Qur’an, Semarang, Lubuk Raya, 2001.
Mansyur, Kahar, Pokok-Pokok Ulumul Qur’an, Jakarta, Rineka Cipta, 1992.
Marzuki, Kamaluddin, Ulumul Quran, Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 1994.
Mudzakir AS, Studi ilmu-ilmu qur’an, Jakarta, PT.Pustaka Litera Antar Nusa, 2000.
Munawir, Fajrul,dkk, Al-Qur’an, Yogyakarta, Pokja Akademik, 2005.
Quthan, Mana’ul, Pembahasan Ilmu Al-Qur’an 1, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1998.
Shihab, M. Qureish, et.al. Sejarah & Ulum Al-Quran cet II, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2000.
Syahbah, Muhammad bin Muhammad Abu, Al-Madkhal-li Dirasat Alqur’an Al-Karim, Kairo, Maktabah As-sunnah, 1992.
Thabathaba'i, Muhammad Husain, Al-Qur'an fi Al-Islam, terj. Malik Madaniy, Bandung : Mizan, 1997.
Zuhdi, Masjfuk, Pengantar Ulumul Qur’an, Surabaya, CV. Karya Abditama, 1993.




[1]     M. Qureish Shihab, et.al. Sejarah & Ulum Al-Quran cet II, (Jakarta: 2000), Pustaka Firdaus, hal. 48.
[2]     Manna Khalil al-Qatan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Jakarta: 2002), Litera Antar Nusa, hal. 35.
[3]     H. Zaini Dahlan,MA. Dkk, Mukadimah Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: 1991), PT. Dana Bakti Wakaf, hal. 10.
[4]     H. Zaini Dahlan,MA. Dkk, Mukadimah Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: 1991), PT. Dana Bakti Wakaf, hal. 9.
[5]     Hasbi Ash-shidiqhi, Ilmu Al-Qur’an & Tafsir, (Semarang: 2009), PT. Pustaka Rizki Putra, hal.10.
[6]     Abdul, Djalal, H.A, Ulumul Quran, (Surabaya: 2011), Dunia Ilmu, Cet. Kelima, hal. 64-65.
[7]     Abdul, Djalal, H.A, Ulumul Quran, (Surabaya: 2011), Dunia Ilmu, Cet. Kelima, hal. 66.
[8]     Kamaluddin Marzuki, Ulumul Quran, (Bandung: 1994), PT Remaja Rosda Karya, hal. 30-35.
[9]     Hasbi Ash-shidiqhi, Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta: 1980), Bulan Bintang, hal. 29.
[10]    Al-Jurjani, Kitab At-Ta’rifat, tt, Singapore: Haramain, Hal. 34
[12]    Kamaluddin Marzuki, Ulumul Quran....., hal. 12.
[14]    Mana’ul Quthan, Pembahasan Ilmu Al-Qur’an 1, (Jakarta: 1998), PT.Rineka Cipta, hal. 11.
[15] Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Al Madkhal li Dirasat Alqur’an Al Karim, (Kairo: 1992), Maktabah As sunnah, hal. 19-20.
[16]    Muhammad ali Ash-Shabuuny, Studi Ilmu Al-Quran, Tt, Bandung : CV Pustaka Setia, hal. 15.
[17]    Al Jurjani, At Ta’rifat, Ath-Thaba’ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi, Tt, Jeddah, hal.174.
[18]    Mudzakir AS, Studi ilmu-ilmu qur’an, (Jakarta: 2000), PT.Pustaka Litera Antar Nusa, hal.11.
[19]    Jalaluddin Abdurrahman As-Sayuthi,  Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an, Tt, Cairo: Darul Fikri.
[20]    Badruddin Imam, m. Abdullah al zarkasy, Al Burhan fi Ulum Al Quran, Tt, Lebanon: Dar Al Ma’rifah. Jilid 1, hal. 273.
[21] Mana’ul Quthan, Pembahasan Ilmu Al-Qur’an 1............hal. 13.
[22]    Dr.Shubhi As-Shalih, Mahahidts file ‘Ulumil Qur’an
[23]    Muhammad Nor Ichwan, Memasuki Dunia Al-Qur’an, (Semarang: 2001), Lubuk Raya, hal. 48-50.
[24]    Muhammad Al Kudhori, Tarikh Tasyri’ Islami, (Surabaya: 2003), Al Hidayah, hal. 17.
[25]    Kahar Mansyur, Pokok- Pokok Ulumul Qur’an, (Jakarta: 1992), Rineka Cipta, hal. 12-13.
[26]    Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an, (Surabaya: 1993), CV. Karya Abditama, hal. 21.
[28]    Fajrul Munawir,dkk, Al Qur’an, (Yogyakarta: 2005), Pokja Akademik, hal.109-110
[29]    Muhammad Husain Thabathaba'i, Al-Qur'an fi Al-Islam......, hal. 4.
diunduh pada tanggal 02 Maret 2014.

No comments:

Post a Comment

Memberikan komentar yang baik adalah suatu pilihan dan keputusan yang bijak dan bermartabat. ^_^

Note: Only a member of this blog may post a comment.