Tuesday, April 2, 2019

MOTIVATION THEORY AND PRACTICE IN EDUCATIONAL ORGANIZATIONS

MOTIVATION THEORY AND PRACTICE
IN EDUCATIONAL ORGANIZATIONS
(Teori Motivasi dan Praktik dalam Organisasi Pendidikan)

A.     Pendahuluan
Motif adalah daya atau energi pendorong pimpinan organisasi untuk bertindak. Motif merupakan peta jalan bagi pemimpin berperilaku secara bertujuan. Motive are the way of behavior! Motif merupakan pendorong utama pemimpin berperilaku atau memunculkan tingkah laku tertentu dalam kerangka tugas-tugas kelembagaannya. Motivasi merupakan dorongan pemimpin, termasuk kepala sekolah untuk bertindak dengan cara tertentu. Motivasi pada dasarnya merupakan kondisi mental yang mendorong pemimpin melakukan suatu tindakan atau aktivitas (actions or activities) dan memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian pemenuhan keinginan, kebutuhan, memberi kepuasan, ataupun mengurangi ketidakseimbangan.[1]
Menurut Hanif Ismail, motivasi adalah dorongan yang menyebabkan orang berperilaku. Dorongan ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berada dalam dirinya (intrinsic motivation) dan foktor-faktor yang berasal dari luar diri (extrinsic motivation).[2]
Selanjutnya Wexley & Yukl (dikutip dari U. Saefullah),[3] mengartikan motivasi sebagai “the process by which behavior is energized and directed”. Artinya proses menggerakkan agar bertindak dengan energis. Ada psikolog yang mengartikan motif dengan need (dorongan,kebutuhan).
Dengan demikian, motivasi berarti dorongan yang menimbulkan seseorang untuk bertingkah laku dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Jadi latar belakang seseorang bertindak adalah adanya dorongan dari dalam ataupun dari luar. Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an surat Ar-Ra’d ayat 11:
žArtinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d:11).
Dalam firman-Nya yang lain ditegaskan oleh Allah dalam Al-qur’an surat Al-Imran ayat 139:
Artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Imran: 139).
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa, seorang pimpinan harus memberikan motivasi kepada bawahannya dengan hal-hal yang tertentu jika ingin organisasi yang dipimpinnya menghasilkan sesuatu yang menjadi harapannya. Sebelum bagian pengembangan organisasi dilaksanakan, motivasi harus dilaksanakan terlebih dahulu oleh pimpinan. Mengapa demikian? Karena para pimpinan tidak dapat mengarahkan para bawahannya kecuali jika mereka dimotivasi untuk bertindak dengan tujuan tertentu.
Motivasi merupakan hal yang sangat diperlukan dalam sebuah organisasi karena tanpa adanya motivasi dalam organisasi, maka akan sulit organisasi tersebut dalam mencapai tujuannya, dengan menerapkan motivasi dalam organisasi, maka disuatu organisasi tersebut akan tercipta komunikasi yang baik dan kerjasama yang baik antara anggota dan pemimpinnya, terbuka dan transparan. Secara individual, upaya motivasi bisa dilakukan melalui upaya-upaya mengontrol, menilai lalu memotivasi diri sendiri. Namun, ada kalanya kesadaran untuk memotivasi diri tidak muncul dalam diri seseorang, karena itu diperlukan motivasi eksternal yang bisa berasal dari keluarga, rekan sejawat, guru dan lainnya.
Dengan motivasi yang baik, maka para bawahan/karyawan akan merasa senang dan bersemangat dalam bekerja sehingga mengakibatkan perkembangan dan partumbuhan yang signifikan pada diri organisasi yang di pegang oleh pimpinan tersebut. Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.

B.    Pembahasan
  1. Individual Needs and Motivation ( Kebutuhan Individu dan Motivasi)
“The term motivation is used in management theory to describe forces within the individual that account for the level, direction, and persistence of effort expended at work. Simply put, a highly motivated person works hand at a job: an unmotivated person does not. A manager who leads through motivation does so by creating conditions under which other people feel consistently inspired to work hard.”[4]
“Motivasi istilah yang digunakan dalam teori manajemen untuk menggambarkan kekuatan dalam diri individu yang menjelaskan tingkat, arahan, dan ketekunan usaha yang dikeluarkan di tempat kerja. Sederhananya, orang yang sangat termotivasi bekerja tangan di pekerjaan; orang yang tidak termotivasi tidak. Seorang manajer yang memimpin melalui motivasi melakukannya dengan menciptakan kondisi di mana orang lain merasa konsisten terinspirasi untuk bekerja keras.”
“Most discussions of motivation begin with the concept of individual needs - the unfulfilled physiological or psychological desires of an individual. Although each of the following theories discusses a slightly different set of needs, all agree that needs cause tensions that influence attitudes and behavior. Their advice to managers is to help people satisfy important needs through their work, and try to eliminate obstacles that block need satisfaction.”[5]
Kebanyakan diskusi motivasi dimulai dengan konsep kebutuhan individu, yaitu keinginan fisiologis atau psikologis yang tidak terpenuhi dari individual. meskipun masing-masing dari teori berikut dibahas satu set sedikit berbeda dari kebutuhan, semua setuju bahwa kebutuhan menyebabkan ketegangan yang mempengaruhi sikap dan perilaku. Saran mereka kepada manajer adalah untuk membantu orang memenuhi kebutuhan penting melalui pekerjaan mereka, dan mencoba untuk menghilangkan hambatan yang menghalangi kebutuhan kepuasan.
Beberapa ahli teori, termasuk Abraham Maslow, Frederick Herzberg, Clayton Alderfer, dan David McClelland telah memberikan teori untuk membantu menjelaskan kebutuhan sebagai sumber motivasi, sebagai berikut:
a.    Hierarchy of Needs Theory (Teori Hirarki Kebutuhan)
Abraham Maslow mendefinisikan kebutuhan sebagai defisiensi fisiologis atau psikologis bahwa seseorang merasakan dorongan untuk memuaskan. Kebutuhan ini dapat menciptakan ketegangan yang dapat mempengaruhi sikap kerja seseorang dan perilaku. Maslow membentuk teori yang didasarkan pada definisi tentang kebutuhan yang mengusulkan bahwa manusia termotivasi oleh berbagai kebutuhan dan bahwa kebutuhan ini ada dalam urutan hirarkis. Teori dikembangkan oleh Abraham Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hirarki kebutuhan, yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Lower-order needs are physiological, safety, and social needs in Maslow’s hierarchy; Higher-order needs are esteem and self-actualization needs in Maslow’s hierarchy. (kebutuhan paling bawah adalah kebutuhan fisiologi, keamanan, dan sosial; Kebutuhan paling tinggi adalah kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri).
1.  Lower-order needs are :
a.  Physiological needs : 1). Rest and refreshment breaks (istirahat dan makan minum); 2.) Physical comfort on the job (kenyamanan fisik pada pekerjaan) 3). Reasonable work hours (jam kerja yang wajar).
b.  Safety needs : 1). Safe working conditions (kondisi kerja yang aman); 2). Job security (keamanan kerja); 3). Base Compensation and benefits (kompensasi dasar dan manfaatnya).
c.  Social needs : 1). Friendly co-workers (rekan kerja yang ramah); 2).Interaction with customers (interaksi dengan pelanggan); 3).Pleasant supervisor (pengawas yang menyenangkan).
2.  Higher-order needs are :
a.  Esteem needs : 1). Responsibility of an important job (tanggung jawab pada pekerjaan penting); 2). Promotion to higher status job (promosi pada pekerjaan yang lebih tinggi); 3). Praise and recognition from boss (pujian dan pengakuan dari atasan).
b.  Self-actualization needs : 1). Cretive and challenging work (karya kreatif dan pekerjaan menantang); 2). Partisipation in decesion making (partisipasi dalam pengambilan keputusan); 3). Job flexibility and autonomy (fleksibilitas pekerjaan dan otonomi).[6]
Dengan demikian, jika seorang pimpinan ingin memotivasi seseorang, maka ia perlu memahami sedang berada pada anak tangga manakah posisi bawahan dan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu atau kebutuhan dia atas tingkat itu.
b.    ERG Theory (Teori ERG)
One of the most promising efforts to build on Maslow’s work is the ERG theory proposed by Clayton Alderfer. This theory collapses Maslow’s five needs categories into three. Existence needs are desires for physiological and material well-being. Relatedness needs are desires for satisfying interpersonal relationships. Growth needs are desires for continued psychological growth and development.[7]
Salah satu upaya paling menjanjikan untuk membangun kerja pada teori maslow adalah teori ERG yang diusulkan oleh Clayton Alderfer. Teori ini meruntuhkan (mengerucutkan) teori lima kebutuhan maslow menjadi tiga kategori, yaitu; Existence, Relatedness, Growth.
1.  “Existence needs are desires for physiological and material well-being” (Kebutuhan Existence adalah keinginan untuk fisiologis dan kesejahteraan materi).
2.  “Relatedness needs are desires for satisfying interpersonal relationships” (Kebutuhan Relatedness adalah keinginan untuk hubungan interpersonal yang memuaskan).
3.  “Growth needs are desires for continued psychological growth and development” (Kebutuhan Growth adalah keinginan untuk pertumbuhan psikologis lanjutan dan pengembangan).
Menurut Schermerhor, Clayton Alderfer memberikan kesimpulan pada teorinya sebagai berikut:[8]
“Existence needs are desires for physical well being” (Kebutuhan eksistensi adalah keinginan untuk menjadi baik fisik).
“Relatedness needs are desires for good interpersonal relationships” (Kebutuhan keterkaitan adalah keinginan untuk hubungan interpersolal yang baik).
“Growth needs are desires for personal growth and development” (Kebutuhan pertumbuhan adalah keinginan untuk pertumbuhan pribadi dan pengembangan).
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa : “Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya; Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan; Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar”. Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.
c.    Two-Factor Theory (Teory Dua Faktor)
Dalam buku “Introduction to Management” karya Schermerhor[9], Frederick Herzberg menawarkan kerangka kerja lain untuk memahami implikasi motivasi dari lingkungan kerja. Dalam karyanya teori dua faktor, Herzberg mengidentifikasi dua faktor yang mempengaruhi motivasi di tempat kerja, yaitu: satisfier factor and hygiene factor.
1. A satisfier factor is found in job content, such as a sense of achievement, recognition, responsibility, advancement, or personal growth” (Sebuah faktor kepuasan/motivasional ditemukan dalam isi pekerjaan, seperti rasa prestasi, pengakuan, tanggung jawab, kemajuan, atau pertumbuhan pribadi).
Sebagai contoh, manajer dapat mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan orang dalam pekerjaan mereka dan membuat perbaikan, sehingga meningkatkan kepuasan kerja dan kinerja.
2. “A hygiene factor is found in the job context, such as working conditions, inter personal relations, organizational policies, and salary” (sebuah faktor pemeliharaan ditemukan dalam konteks pekerjaan, seperti kondisi kerja, hubungan interpersonal, kebijakan organisasi dan gaji).
Menurut Martinis, yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ektrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.[10]
Menurut Herzberg (dikutip dari Martinis), yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karir dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku. Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.[11]
d.    Acquired Needs Theory (Teori Akuisisi Kebutuhan)
Menurut McClelland, ada tiga hal yang sangat berpengaruh, yang memotivasi seseorang untuk berprestasi. Ke tiga motif itu adalah; achievement motive, power motive, and affiliation motive.

1.    Achievement Motive (Motif berprestasi)
According to McClelland, people acquire or develop these needs over time as a result of individual life experiences. Because each need can be linked with a distinct set of work preferences, he encourages managers to understand these needs in themselves and in others, and try to create work environments responsive to them”.[12]
Menurut Mclelland, orang memperoleh atau mengembangkan kebutuhan tersebut dari waktu ke waktu sebagai hasil dari pengalaman hidup individu. Karena setiap kebutuhan bisa dihubungkan dengan satu set yang berbeda dari preferensi pekerjaan, ia mendorong manajer untuk memahami kebutuhan ini dalam diri mereka sendiri dan orang lain, dan mencoba untuk menciptakan lingkungan kerja yang responsif terhadap mereka.
“Need for achievement is the desire to do something better, to solve problems, or to master complex tasks”.[13]
Kebutuhan berprestasi adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik atau lebih efisien, untuk memecahkan masalah, atau untuk tugas-tugas kompleks yang dikuasi.
People with a high need for achievement like to put their  competencies to work; they take moderate risks in competitive situations, and they are willing to individual responsibility for result, achievable but challenging goals, and feedback on perfformance”.[14]
Orang dengan kebutuhan tinggi perlu untuk prestasi seperti untuk meletakkan kompetensi mereka untuk bekerja; mereka mengambil risiko yang moderat pada situasi yang kompetitif, dan mereka bersedia untuk tanggung jawab individu untuk hasil yang dicapai tetapi tujuan menantang, dan umpan balik pada perfformance.
Dengan demikian, kebutuhan untuk berprestasi merupakan refleksi dari dorongan tanggung jawab untuk pemecahan masalah. Seorang pegawai yang mempunyai kebutuhan berprestasi tinggi cenderung berani mengambil resiko. Kebutuhan untuk berprestasi adalah kebutuhan untuk melakukan pekerjaan lebih baik daripada sebelumnya dan selalu berkeinginan mencapai prestasi yang lebih tinggi. Motivasi berprestasi (Achievement Motivation) merupakan dorongan dalam diri orang-orang untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan dalam upaya mencapai tujuan. Orang yang memiliki dorongan ini ingin berkembang dan tumbuh, serta ingin maju menelusuri tangga keberhasilan. Menurutnya, penyelesaian sesuatu merupakan hal yang penting demi penyelesaian itu bukan untuk imbalan yang menyertainya. Sejumlah karakteristik menunjukkan pegawai yang berorientasi prestasi adalah bekerja keras apabila memandang bahwa mereka akan memperoleh kebanggaan pribadi atas upaya mereka, apabila hanya terdapat sedikit resiko gagal, dan apabila mereka cenderung mempercayai bawahan mereka, bersedia berbagi dan menerima gagasan secara terbuka, menetapkan tujuan tinggi, dan berharap bahwa pegawainya juga akan berorientasi prestasi.[15]
2.    Power Motive (Motif berkuasa)
”Need for power is the desire to control, influence, or be responsible for other people”.[16]
Kebutuhan kekuasaan adalah keinginan untuk mengendalikan, mempengaruhi, atau bertanggung jawab untuk orang lain.
Jadi kebutuhan untuk kekuasaan merupakan refleksi dari dorongan untuk mencapai otoritas untuk memiliki pengaruh terhadaporang lain. Menurut Surya (dikutip oleh U. Saefullah)[17], motivasi merupakan hal yang penting bagi organisasi, karena beberapa alasan berikut:
a.  Orang-orang harus didorong untuk bekerja sama dalam organisasi dan senantiasa berada dalam situasi itu.
b.  Para karyawan harus senantiasa didorong untuk bekerja dan berusaha sesuai dengan tuntutan kerja.
c.  Memotivasi merupakan hal yang penting dalam memelihara dan mengembangkan sumber daya manusia dalam organisasi.
Dalam manajemen pendidikan Islam hakikat motivasi berkaitan dengan upaya dakwah ke jalan yang lurus, dalam amal perbuatan manusia yang harus berorientasi pada pencapaian ridlo Allah. Hal ini seperti dinyatakan oleh Imam Fudhail bin Iyadh, salah seorang guru Imam Syafi’i dan perawi hadits yang tsiqah dalam menafsirkan surah Al-Mulk ayat 2 berikut:
Artinya: Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 2).
Ia mensyaratkan dipenuhinya dua syarat, yaitu niat yang ikhlas dan cara yang harus sesuai dengan syariat Islam. Apabila perbuatan manusia memenuhi dua syarat itu, amal itu tergolong ahsan (ahsanul amal), yaitu amal terbaik di sisi Allah SWT.
Dalam Islam, manajemen dipandang sebagai perwujudan amal saleh yang harus bertitik tolak dari niat baik. Niat baik tersebut akan memunculkan motivasi aktivitas untuk mencapai hasil yang bagus demi kesejahteraan bersama.
Dari uraian diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa mereka yang mempunyai personal power motive yang tinggi cenderung untuk memerintah secara langsung, dan bahkan cenderung memaksakan kehendaknya, sedangkan mereka yang mempunyai institutional power motive yang tinggi, atau sering disebut social power motive, cenderung untuk mengorganisasikan usaha dari rekan-rekannya untuk mencapai tujuan bersama.
3.    Affiliation Motive (Motif bersahabat)
“Need for affiliation is the desire to establish and maintain good relations with people”.[18]
Kebutuhan afiliasi adalah keinginan untuk membangun dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang.
Kebutuhan untuk berafiliasi yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama orang lain, tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Motivasi afiliasi (Affiliation motivation) adalah dorongan untuk berhubungan dengan orang lain atas dasar social. Perbandingan antara pegawai yang bermotivasi prestasi bekerja lebih keras apabila penyelia mereka menyediakan penilaian terperinci tentang perilaku kerja mereka. Akan tetapi orang-orang yang termotivasi afiliasi bekerja lebih baik apabila mereka dipuji karena sikap dan kerjasama mereka yang menyenangkan. Orang-orang yang bermotivasi prestasi memilih pembantunya yang berkemampuan teknis, dan kurang memperhatikan perasaan pribadi tentang mereka, tetapi mereka yang bermotivasi afiliasi cenderung memilih orang-orang di sekeliling mereka. Mereka menerima keleluasaan untuk membina hubungan ini dalam pekerjaan.[19]
Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka yang memiliki motif yang besar untuk bersahabat sangat menginginkan hubungan yang harmonis dengan orang lain dan sangat ingin untuk merasa diterima oleh orang lain. Mereka akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan sistem norma dan nilai dari lingkungan mereka berada. Mereka akan memilih pekerjaan yang meberikan hasil positif yang signifikan dalam hubungan antar pribadi. Mereka akan sangat senang menjadi bagian dari suatu kelompok dan sangat mengutamakan interaksi sosial. Mereka umumnya akan maksimal dalam pelayanan terhadap konsumen dan interkasi dengan konsumen (customer service and client interaction situations).
  1. Process theories of motivation (Teori Proses Motivasi)
“Although the details vary, each of the needs theories offers insights on individual differences and how managers can deal positively with them. Another set of motivation theories, the process theories, adds further to this understanding. The equity, expectancy, goal-setting, and self-efficacy theories focus on how people make choices to work hard or not, based on their individual preferences, the available rewards, and possible work outcomes”.[20]
Meskipun rincian bervariasi, masing-masing dari teori kebutuhan menawarkan wawasan tentang perbedaan individual dan bagaimana manajer dapat memperlakukan mereka secara positif. Kumpulan teori motivasi yang lain adalah, teori proses, menambahkan lebih lanjut untuk pemahaman ini. Teori Keadilan, harapan, menetapkan tujuan dan keberhasilan diri, yang fokus pada bagaimana orang membuat pilihan untuk bekerja keras atau tidak berdasarkan preferensi/pilihan individu, hadiah/penghargaan yang didapatkan dan kemunginan hasil kerja.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa proses teori ini menjelaskan bagaimana para pekerja memilih tindakan perilaku untuk memenuhi kebutuhan mereka dan menentukan pilihan mereka. Teori tersebut masing-masing menawarkan saran dan wawasan tentang bagaimana orang benar-benar membuat pilihan untuk bekerja keras atau tidak bekerja keras berdasarkan preferensi mereka masing-masing, penghargaan yang tersedia, dan kemungkinan hasil kerja.
Teori proses motivasi ini terdiri dari empat teori pendukung, yaitu:
a.    Equity Theory (Teori Ekuitas/Keadilan)
The equity theory of motivation is best known in management through the work of J. Stacy Adams. it is based on the logic of social comparisons and the notion that perceived inequity is a motivating state. That is, when people believe that they have been unfairly treated in comparison to others, they will be motivated to eliminate the discomfort and restore a sense of perceived equity to the situation. The classic example is pay, and the equity question is: ”in comparison with others, how fairly am I being compensated for the work that I do?”[21]
Teori ekuitas motivasi terkenal dalam manajemen melalui karya J. Stacy Adams. Hal ini didasarkan pada logika perbandingan sosial dan gagasan bahwa ketidakadilan yang dirasakan adalah sebuah negara yang memotivasi. Itu adalah, ketika orang-orang percaya bahwa mereka telah diperlakukan secara tidak adil dibandingkan dengan orang lain, mereka akan termotivasi untuk menghilangkan ketidaknyamanan dan mengembalikan rasa ekuitas pada situasi/keadaan yang dirasakan. Contoh klasik adalah membayar, dan ekuitas pertanyaannya adalah: "dibandingkan dengan orang lain, bagaimana cukup saya mengganti-rugi untuk pekerjaan yang saya lakukan?"
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, maka ada dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu: 1). Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar; 2). Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Masih menurut J. Stacy Adams, Teori Equity dikelompokkan menjadi dua, yaitu:[22]
1.    Equity and Social Comparison (Ekuitas dan Perbandingan Sosial)
“A key point in the equity theory is that people behave according to their perception. What influences individual behave according to their perceptions. What influences individual behavior is not the reward’s absolute value or the manager’s intentions: the recipient’s perceptions determine the motivational outcomes. Perceived inequities occur whenever people feel that the rewards received for their work efforts are unfair, given the rewards others appear to by getting. As individual who perceives that she or he is being treated unfairly in comparison to others will be motivated to act in ways that reduce the perceived inequity. For example. When perceived negative inequity exists Adams predicts that people will try to deal with it by:
§  Changing their work inputs by putting less effort into their jobs.
§  Changing the rewards received by asking for better treatment.
§  Changing the comparison points to make things seem better.
§  Changing the situation by leaving the job.
Sebuah titik kunci dalam teori ekuitas ini adalah bahwa orang-orang berperilaku menurut persepsi mereka. Apa yang mempengaruhi individu berperilaku tergantung bagaimana persepsi mereka. Apa yang mempengaruhi perilaku individu bukanlah nilai absolut pahala atau pamrih manajer: Penerima persepsi menentukan hasil motivasi. Ketidakadilan yang dirasakan, terjadi setiap kali orang merasa bahwa imbalan yang diterima untuk usaha kerja tidak adil, diberikan penghargaan lain tampak dengan mendapatkan. Sebagai individu yang merasakan bahwa dia diperlakukan tidak adil dibandingkan dengan orang lain akan termotivasi untuk bertindak dengan cara mengurangi ketidakadilan yang dirasakan. Sebagai contoh. Ketika ada ketidakadilan negatif dirasakan, Adams memprediksi bahwa orang akan mencoba untuk menanganinya dengan:
§  Mengubah input pekerjaan mereka dengan meletakkan sedikit usaha ke dalam pekerjaan mereka.
§  Mengubah imbalan yang diterima dengan meminta perlakuan yang lebih baik.
§  Mengubah perbandingan poin untuk membuat hal-hal yang tampak lebih baik.
§  Mengubah situasi dengan meninggalkan pekerjaan.
2.    Equity Dynamics (Dinamika Ekuitas)
“Research on equity theory has largely been accomplished in the laboratory. It is most conclusive with respect to perceived negative inequity. Those who feel underpaid, for example, may try to restore perceived equity by pursuing one or more of the actions described in the prior list, such as reducing current work efforts to compensate for the missing rewards or even quitting the job. There is also evidence that the equity dynamic occurs among people who feel overpaid. This time the perceived positive inequity is associated with a sense of guilt. The attempt to restore perceived equity may involve, for example, increasing the quantity or quality of work, taking on more difficult assignments, or working overtime.”
Penelitian pada ekuitas teori sebagian besar telah dicapai di laboratorium. Hal ini paling konklusif terhadap ketidakadilan negatif yang dirasakan. Mereka yang merasa bergaji rendah misalnya, mungkin mencoba untuk memulihkan ekuitas yang dirasakan dengan mengejar satu atau lebih dari tindakan-tindakan yang dijelaskan dalam daftar sebelumnya, seperti mengurangi upaya kerja saat ini untuk mengimbangi kehilangan imbalan atau bahkan berhenti dari pekerjaan. Ada juga merupakan bukti bahwa ekuitas dinamis terjadi antara orang-orang yang merasa kelebihan pembayaran. Kali ini ketidakadilan yang dirasakan positif dikaitkan dengan rasa bersalah. Upaya untuk mengembalikan ekuitas yang dirasakan, mungkin melibatkan, misalnya, meningkatkan kuantitas maupun kualitas pekerjaan, mengambil tugas yang lebih sulit, atau bekerja lembur.
b.    Expentancy Theory (Teori Harapan)
Teori ini dikemukakan oleh Victor Vroom, orang termotivasi untuk melakukan perilaku tertentu berdasarkan tiga persepsi, yaitu Expectancy, Instrumentality, and Valence.[23]
1.    Expectancy is a person’s belief that working hard will result in high task performance. (Harapan adalah keyakinan seseorang yang bekerja keras akan menghasilkan kinerja tugas tinggi).
2.    Instrumentality is a person’s belief that various outcomes will occur as a result of task performance. (Perantaraan adalah keyakinan seseorang bahwa berbagai hasil akan terjadi akibat dari kinerja tugas).
3.    Valence is the value a person assigns to work related outcomes. (Valensi adalah nilai seseorang memberikan hasil kerja yang terkait).

Motivation = Expectancy x Instrumentality x Valente

“In the expectancy theory, Motivation (M), expectancy (E), instrumentality (I). And valence (V) are related to one another in a multiplicative fashion: M= E x I x V. In other words, motivation is determined by expectancy times - instrumentality times Valence. Mathematically speaking, a zero at any location on the right side of the equation (that is, for E, I, or v) will result in zero motivation.”

Motivasi = Harapan x Perantaraan x Valensi

Dalam teori harapan, Motivasi (M), harapan (E), sarana (I), dan valensi (V) terkait dengan satu sama lain dalam mode multiplicative: M = E x I x V. Dengan kata lain, motivasi ditentukan oleh harapan kali sarana kali Valence. Berbicara secara matematis, nol pada setiap lokasi di sisi kanan dari persamaan (yaitu E, I atau V) akan mengakibatkan motivasi nol.
Menurut Martinis, teori harapan (expectancy theory) memiliki tiga asumsi pokok:[24]
1.    Setiap orang percaya bahwa ia berperilaku dengan cara tertentu ia akan memperoleh hal tertentu. Ini disebut sebuah harapan bahwa bila anda memiliki skor dalam mata kuliah strategi pembelajaran sekurang-kurangnya dengan nilai 80, anda tentu dinyatakan lulus dalam mata kuliah ini. Juga anda mempunyai harapan atau kepercayaan bahwa bila anda mendapatkan nilai sekurang-kurangnya B di kelas, keluarga anda akan menyetujui apa yang akan anda lakukan. Jadi dapat didefinisikan suatu harapan hasil sebagai penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan bahwa hasil sebagai penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan bahwa hasil tertentu akan muncul dari tindakan orang tersebut.
2.    Setiap hasil mempunyai nilai, atau daya tarik bagi orang tertentu. Ini disebut dengan valiancy (valence). Misalnya, anda menghargai sebuah gelar, pangkat dari kemajuan karir, mungkin seseorang menghargai suatu hasil pekerjaannya atau hasil usaha yang dilakukan selama ini. Valency atau nilai dari sebagian aspek pekerjaan biasanya berasal dari kebutuhan internal, namun motivasi yang sebenarnya merupakan proses yang lebih rumit lagi. Jadi valency dapat kita definisikan sebagai nilai yang orang berikan kepada suatu hasil yang diharapkan.
3.    Setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai beberapa sulit mencapai hasil tersebut. Hal ini disebut dengan harapan usaha (effort expectancy). Misalnya, anda percaya dengan membaca buku strategi pembelajaran ini dengan giat, anda akan memperoleh nilai 80 dalam ujian semester, namun anda harus berusaha lebih giat lagi untuk mempelajari kuliah ini untuk mendapat nilai 90. Jadi dapat kita definisikan bahwa harapan usaha merupakan kemungkinan bahwa usaha seseorang akan menghasilkan pencapaian suatu tujuan tertentu.
Motivasi dijelaskan dengan mengkoordinasikan ketiga prinsip ini. Orang akan termotivasi bila ia percaya bahwa (1) Suatu perilaku tertentu akan menghasilkan hasil tertentu, (2) Hasil tersebut punya nilai positif baginya, dan (3) Hasil tersebut dapat dicapai dengan usaha yang dilakukan seseorang.
Dengan demikian orang akan dapat memilih alternatif-alternatif, tingkat kinerja demikian akan memiliki kekuatan motivational tertinggi yang berkaitan dengannya. Ketika dihadapkan kepadanya satu atau lebih banyak pilihan tentang bagaimana harus berperilaku, anda tentu akan menanyai diri anda sendiri, “dapatkah saya melakukan hal yang demikian bila dikerjakan?”, “Apakah saya akan mendapat nilai lebih baik dari nilai-nilai sebelumnya bila saya giat mengulangi pelajaran di rumah?”, “Mungkinkah saya akan berhasil dalam testing pengangkatan kepegawaian jika saya mengikuti prosedur yang benar?”. Kemudian anda akan memutuskan melakukan hal-hal yang tampaknya memiliki peluang terbaik untuk menghasilkan hasil yang positif dan diinginkan. Dengan kata lain, anda akan termotivasi. Anda akan mencurahkan energi dan segenap kemampuan untuk mencapai hasil yang positif secara maksimal. Kemampuan seseorang untuk melakukan tugas tertentu dengan usaha maksimal, itulah yang disebut dengan motivasi, dalam teori harapan kemampuan mencurahkan energi adalah motivasi.
Expectancy Theory Applications[25]
”Expectancy theory reminds managers that different people answer the question “why should I work hard today?” in different ways. The implication is that every person must be respected as an individual with unique needs, preferences, and concerns. Knowing this, a manager can try to customize work environments for high motivation.”
“To maximize expectancy people must believe in their abilities; they must believe that if they try, they can perform. Managers can build positive expectancies by selecting workers with the right abilities for the jobs to be done, providing them with the best training and development, and supporting them with resources so that the jobs can be done very well. To maximize instrumentality people must perceive that high performance will be followed by certain outcomes. Managers can create positive instrumentalities by taking care to clarify the possible rewards linked with high performance, and by acting consistent in actually allocating rewards on a performance contingent basis. To maximize positive valence people must value the outcomes associated with high performance.”
Teori harapan mengingatkan manajer bahwa terdapat perbedaan orang menjawab pertanyaan "Mengapa saya seharusnya bekerja keras setiap hari?" dengan cara yang berbeda. Implikasinya adalah bahwa setiap orang harus dihormati sebagai individu dengan kebutuhan unik, preferensi, dan kekhawatiran. Mengetahui hal ini, seorang manajer dapat mencoba untuk menyesuaikan lingkungan kerja untuk motivasi tinggi.
Untuk memaksimalkan harapan orang harus percaya kemampuan mereka; mereka harus percaya bahwa jika mereka mencoba, mereka dapat melakukan. Manajer dapat membangun harapan positif dengan memilih pekerja dengan kemampuan yang tepat untuk pekerjaan yang harus dilakukan, menyediakan mereka dengan pelatihan dan pengembangan yang terbaik, dan mendukung mereka dengan sumber daya sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan sangat baik. Untuk memaksimalkan perantaraan/alat pembantu orang harus memahami bahwa kinerja tinggi akan diikuti oleh hasil tertentu. Manajer dapat membuat perangkatnya positif dengan menjaga untuk memperjelas imbalan/penghargaan yang mungkin terkait dengan kinerja tinggi, dan bertindak konsisten dengan sebenarnya mengalokasikan imbalan/penghargaan atas dasar bagian kinerja. Untuk memaksimalkan valensi (interaksi) positif orang harus menghargai hasil yang terkait dengan kinerja tinggi.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa orang akan termotivasi melakukan sesuatu, jika dari apa yang mereka perbuat tersebut akan diperoleh suatu imbalan yang dapat memenuhi harapan mereka. Hal ini berarti bahwa tingkat motivasi seseorang dipengaruhi oleh seberapa besar harapannya akan terpenuhi. Dengan kata lain, jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.
c.    Goal-Setting Theory (Teori Penetapan Tujuan)[26]
The basic premise of Locke’s goal-setting theory is that task goals can be highly motivating if they are properly set and if they are well managed. Goals give direction to people in their work. Goals clarify the performance expectations in supervisory relationships, between co-workers and across subunits in an organization. Goals establish a frame of reference for task feedback. Goals also provide a foundation for behavioral self-management. In these and related ways, Locke believes goal setting can enhance individual work performance and job satisfaction.
Dasar pikiran dari Locke's tentang teori penetapan tujuan adalah bahwa tujuan tugas dapat sangat memotivasi jika mereka diatur dengan benar dan jika mereka dikelola dengan baik. Tujuan memberikan arah kepada orang-orang dalam pekerjaan mereka. Tujuan menjelaskan kinerja harapan dalam hubungan pengawasan, antara rekan kerja dan seluruh subunit dalam sebuah organisasi. Tujuan menetapkan kerangka acuan untuk tugas umpan balik. Tujuan juga menyediakan/memberikan sebuah pondasi untuk manajemen diri perilaku. Dalam hal ini dan hal terkait, Locke percaya bahwa penetapan tujuan dapat meningkatkan kinerja individu dan kepuasan kerja.
To achieve the motivational benefits of goal setting, research by Locke and his associates indicates that managers and team leaders must work with themselves and others to set the right goals in the right ways. Things such as goal specificity, goal difficulty, goal acceptance, and goal commitment are among the goal-setting recommendations provided in management smarts. 13.1.
Untuk mencapai manfaat motivasi menetapkan tujuan, penelitian oleh Locke dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa manajer dan pemimpin tim harus bekerja dengan diri mereka sendiri dan orang lain untuk menetapkan cita-cita benar dalam cara yang tepat. diantaranya seperti; kekhususan tujuan, kesulitan tujuan, penerimaan tujuan, dan komitmen tujuan merupakan rekomendasi penetapan tujuan yang disediakan dalam manajemen kecerdasan. 13.1.
MANAGEMENT SMARTS 13.1
How to make goal setting work for you?
ü  Set specific goals: lead to higher performance than do more generally stated ones, such as “do your best.”
ü  Set challenging goals: When viewed as realistic and attainable, more difficult goals lead to higher performance than do easy goals.
ü  Build goal acceptance and commitment: People work harder for goals they accept and believe in; they resist goals forced on them.
ü  Clarify goal priorities: Make sure that expectations are clear as to which goals should be accomplished first.
ü  Provide feedback on goal accomplishment: Make sure that people know, how well they are doing with respect to goal accomplishment.
ü  Reward goal accomplishment: Don’t let positive accomplishments pass unnoticed; reward people for doing what they set out to do.
MANAJEMEN KECERDASAN 13.1
Bagaimana membuat penetapan tujuan bekerja anda?
ü  Menetapkan tujuan spesifik: mengakibatkan kinerja yang lebih tinggi daripada yang lebih umum dinyatakan, seperti (pernyataan) "lakukan yang terbaik."
ü  Menetapkan tujuan yang menantang: bila dilihat secara realistis dan dapat dicapai, tujuan yang lebih sulit mengakibatkan kinerja yang lebih tinggi daripada tujuan mudah.
ü  Membangun tujuan penerimaan dan komitmen: orang bekerja lebih keras untuk tujuan, mereka menerima dan mempercayainya; mereka menolak tujuan yang dipaksakan pada mereka.
ü  Menjelaskan tujuan prioritas: memastikan bahwa harapan yang jelas mengenai tujuan yang harus dicapai terlebih dahulu.
ü  Memberikan umpan balik pada pencapaian tujuan: memastikan bahwa orang tahu, seberapa baik mereka melakukan terhadap pencapaian tujuan.
ü  Hadiah tujuan prestasi: Jangan biarkan prestasi positif yang dapat diterima tidak diketahui; hadiah untuk orang atas pekerjaan yang  telah mereka melakukan.
Selanjutnya menurut Martinis (dikutip dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/06/teori-teori-motivasi), Edwin locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni: (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan prestasi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.[27]
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa niat untuk bekerja menuju tujuan merupakan sumber utama dari motivasi kerja. Tujuan pada dasarnya memberitahu karyawan apa yang perlu dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus diperluas. Secara umum, semakin sulit tujuan, semakin tinggi tingkat kinerja yang diharapkan. Manajer dapat menetapkan tujuan untuk karyawan mereka, atau karyawan dan manajer dapat mengembangkan tujuan bersama-sama. Salah satu keuntungan dari karyawan berpartisipasi dalam penetapan tujuan adalah bahwa mereka mungkin lebih cenderung untuk bekerja menuju tujuan dan mereka membantu mengembangkan. Tidak peduli siapa yang menetapkan tujuan, bagaimanapun karyawan akan melakukan lebih baik ketika mereka mendapatkan umpan balik pada kemajuan mereka.
Jika teori penentuan tujuan diikuti, manajer perlu bekerja dengan karyawan dalam menentukan tujuan-tujuan dalam memberikan target untuk motivasi. Selain itu, tujuan yang ditetapkan harus spesifik daripada bersifat umum, dan manajer harus memberikan umpan balik pada kinerja.
d.    Self-Efficacy Theory (Teori Keberhasilan Diri)
“Closely related to both the expectancy and goal-setting approaches to motivation is self-efficacy theory, also referred to as social learning theory. Based on the work of psychologist Albert Bandura, the notion of self-efficacy refers to a person’s belief that she or he is capable of performing a task. You can think of self-efficacy using such terms as confidence, competence, and ability. From a manager’s perspective, the major insight of self-efficacy theory is that anything done to boost feelings of confidence, competence, and ability among people at work is likely to pay off with increased levels of motivation.”[28]
Terkait erat dengan keduanya (harapan dan pendekatan penetapan tujuan motivasi) adalah teori keberhasilan diri, juga disebut sebagai pembelajaran sosial teori. Berdasarkan karya psikolog Albert Bandura, gagasan tentang keberhasilan diri merujuk kepada keyakinan seseorang bahwa dia (perempuan) atau dia (laki-laki) mampu melakukan tugas. Anda dapat memikirkan keberhasilan diri menggunakan istilah-istilah tersebut sebagai kepercayaan diri, kompetensi dan kemampuan. Dari perspektif seorang manajer, pengertian penting dari teori keberhasilan diri adalah bahwa segala sesuatu yang dilakukan untuk meningkatkan perasaan kepercayaan diri, kompetensi dan kemampuan antara orang-orang di tempat kerja adalah mungkin untuk penyelesaian pembayaran/membayar lunas (upah) dengan tingginya/nilai peningkatan motivasi.
Mahatma Ghandi once said: “if I have the belief that I can do it, I shail surely acquire the capacity  to do it, even if I may not have it at the beginning.” The essence of self-efficacy theory is that, when people believe themselves to be capable. They will be more motivated to work hard at a task. The Wall Street Journal has called this “the unshakable belief some people have that they have what it takes to succeed.” But self-efficacy is not an undifferentiated feeling of confidence, acording to Bandura. Rather, it is a capability-specific belief in one’s competency to perform a task.”[29]
Mahatma Gandhi pernah berkata: "jika saya memiliki keyakinan bahwa aku bisa melakukan itu, aku yakin pasti memperoleh kemampuan untuk melakukannya, bahkan jika saya mungkin tidak memiliki itu pada awal." Esensi dari teori keberhasilan diri adalah bahwa, ketika orang percaya diri mereka mampu. Mereka akan lebih termotivasi untuk bekerja keras untuk tugas. Wall Street Journal telah menyampaikan ini "beberapa orang memiliki keyakinan tak tergoyahkan bahwa mereka memiliki apa yang diperlukan untuk berhasil." Tetapi keberhasilan diri bukanlah perasaan keyakinan, menurut Bandura. Sebaliknya, itu adalah kemampuan-keyakinan khusus dalam satu kompetensi untuk melakukan tugas.
Dengan demikian, Keberhasilan diri adalah seseorang yakin bahwa dia (perempuan) atau dia (laki-laki) mampu melakukan tugas (Self-efficacy is a person’s belief that she or he is capable of performing a task).
  1. Reinforcement theory (Teori Penguatan)[30]
“The motivation theories discussed so far are concerned with explaining “why” people do things in terms of satisfying needs, resolving felt inequities, evaluating expectancies, and pursuing task goals. Reinforcement theory, by contrast, views human behavior as determined by its environmental consequences. Instead of looking within the individual to explain motivation, it focuses on the external environment and its consequences. The basic premises of reinforcement theory are based on what E. L. Thorndike called the law of effect. It states: behavior that result in a pleasant outcome is likely to be repeated; behavior that result in an unpleasant outcome is not likely to be repeated.”
Teori-teori motivasi yang dibahas sejauh ini berhubungan dengan menjelaskan "Mengapa" orang-orang melakukan hal-hal dalam memuaskan kebutuhan, menyelesaikan ketidakadilan yang dirasakan, mengevaluasi harapan, dan mengejar tujuan tugas. Teori penguatan, sebaliknya, memandang perilaku manusia seperti yang ditentukan oleh konsekuensi lingkungan. Bukannya melihat dalam individu untuk menjelaskan motivasi, ini berfokus pada lingkungan eksternal dan konsekuensinya. Pemikiran dasar dari teori penguatan didasarkan pada apa yang disebut E. L. Thorndike hukum efek. Ia menyatakan: perilaku yang mengakibatkan hasil yang menyenangkan mungkin untuk diulang; perilaku yang mengakibatkan hasil yang tidak menyenangkan tidak mungkin untuk diulang.
“The law of effect states that behavior followed by pleasant consequences is likely to be repeated; behavior followed by unpleasant consequences is not.”
Hukum efek menyatakan bahwa perilaku yang diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan cenderung diulang, perilaku yang diikuti oleh konsekuensi yang tidak menyenangkan tidak.
Begitu juga menurut Martinis, dalam hal ini berlakulah apa yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekuensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengakibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekuensi yang merugikan.[31]
Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekuensi perilakunya itu, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekuensi positif lagi di kemudian hari.
Contoh sebaiknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulang kali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagai konsekuensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas. Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.
a.    Reinforcement Strategies (Strategi Penguatan)
Psychologist B .F. skinner popularized the concept of operant conditioning as the process of applying the law of effect to control behavior by manipulating its consequences. You may think of operant conditioning as learning by reinforcement. In management the goal is to use reinforcement principles to systematically reinforce desirable work behavior and discourage undesirable work behavior.”[32]
Psikolog B. F. Skinner mempopulerkan konsep pengkondisian operan sebagai proses menerapkan hukum efek untuk mengontrol perilaku dengan memanipulasi konsekuensinya. Anda mungkin berpikir dari pengkondisian operan sebagai belajar dengan penguatan. Dalam manajemen tujuannya adalah untuk menggunakan prinsip-prinsip penguatan secara sistematis memperkuat perilaku kerja yang diinginkan dan mencegah perilaku kerja yang tidak diinginkan.
Dengan demikian, pengkondisian operan adalah kontrol perilaku dengan memanipulasi konsekuensinya (Operant conditioning is the control of behavior by manipulating its consequences).
b.    Positive Reinforcement (Penguatan Positif)
“Among the reinforcement strategies, positive reinforcement deserves special attention. It is governed by two important laws. Firts, the law of contingent reinforcement states that for a reward to have maxsimum reinforcing value, it must be delivered only if the desired behavior is exhibited. Second, the law of immediate reinforcement states that the more immediate the delivery of a reward after the occurrence of a desirable behavior, the greater the reinforcing value of the reward.”[33]
Di antara strategi penguatan, penguatan positif layak untuk mendapatkan perhatian khusus. Hal ini diatur oleh dua undang-undang penting. Pertama, hukum penguatan kontingen menyatakan bahwa untuk hadiah memiliki nilai penguat maksimal, yang harus disampaikan hanya jika perilaku yang diinginkan dipamerkan. Kedua, hukum penguatan langsung menyatakan bahwa lebih cepat pengiriman hadiah setelah terjadinya perilaku yang diinginkan, semakin besar nilai memperkuat dari hadiah.
“One way to tap the power of positive reinforcement is through of process known as shaping. This is creation of a new behavior by the positive reinforcement of successive approximation to it. Continuous reinforcement schedule administers a reward each time a desired behavior occurs. An intermittent reinforcement schedule rewards behavior only periodically. In general continuous reinforcement will elicit a desired behavior more quickly than will intermittent reinforcement. Also, behavior acquired under an intermittent schedule will be more permanent than will behavior acquired under a continuous schedule. One way to succeed with a shaping strategy, for example, is to reinforcement on a continuous basis until the desired behavior is achieved. Then an intermittent schedule can be used to maintain the behavior at the new level.”[34]
Salah satu cara untuk memanfaatkan kekuatan dari penguatan positif adalah melalui proses yang dikenal sebagai pembentukan. Ini adalah penciptaan perilaku baru oleh penguatan positif dari pendekatan berturut-turut untuk itu. Jadwal penguatan terus menerus mengelola hadiah setiap kali perilaku yang diinginkan terjadi. Sebuah jadwal penguatan intermiten penghargaan perilaku hanya secara periodik. Secara umum penguatan terus menerus akan menimbulkan suatu perilaku yang diinginkan lebih cepat daripada kehendak penguatan berselang. Juga, perilaku yang diperoleh dengan jadwal berselang akan lebih permanen daripada perilaku yang akan diperoleh dengan jadwal yang berkelanjutan. Salah satu cara untuk sukses dengan membentuk strategi, misalnya adalah untuk penguatan secara terus-menerus sampai perilaku yang diinginkan tercapai. Kemudian jadwal berselang dapat digunakan untuk mempertahankan perilaku pada tingkat yang baru.
Dengan demikian, penguatan positif memperkuat perilaku dengan membuat konsekuensi kontingen yang diinginkan pada kejadian tersebut (Positive reinforcement strenghens behavior by making a desirable consequence contingent on its occurrence); membentuk adalah penguatan positif aproksimasi untuk perilaku yang diinginkan (Shaping is positive reinforcement of successive approximations to the desired behavior); Penguatan terus-menerus, penghargaan (diberikan) setiap kali perilaku yang diinginkan terjadi (Continuous reinforcement rewads each time a desired behavior occurs); Penguatan berselang penghargaan (diberikan) pada perilaku hanya secara periodik (Intermittent reinforcement rewads behavior only periodically).
Masih menurut John R. Schermerhor, JR, Pedoman untuk penguatan positif (Guidelines for positive reinforcement) adalah:[35]
Positive reinforcement:
·      Clearly identify desired work behaviors.
·      Maintain a diverse inventory of reward.
·      Inform everyone what must be done to get rewards.
·      Recognize individual differences when allocating award.
·      Follow the laws of immediate and contingent reinforcement.
Penguatan positif:
·      Mengidentifikasi secara jelas perilaku kerja yang diinginkan.
·      Menjaga inventarisasi beragam hadiah.
·      Beritahu semua orang apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan hadiah.
·      Kenali perbedaan individu ketika mengalokasikan penghargaan.
·      Ikuti hukum penguatan langsung dan kontingen.
c.    Punishment (Hukuman)
“As a reinforcement strategy, punishment attempts to eliminate undesirable behavior by making an unpleasant consequence contingent upon its occurrence. To punish an employee, for example, a manager may deny a valued reward – such as praise or merit pay, or administer an unpleasant outcome – such as a verbal reprimand or pay reduction. Like positive reinforcement, punishment can be done poorly or it can be done well. All too often, it is probably done poorly.”[36]
Sebagai strategi penguatan, hukuman mencoba untuk menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan dengan membuat konsekuensi kontingen menyenangkan setelah kejadian tersebut. Untuk menghukum seorang karyawan, misalnya, seorang manajer mungkin menolak senilai hadiah - seperti pujian atau membayar jasa, atau mengelola hasil yang tidak menyenangkan - seperti teguran lisan atau pengurangan gaji. Seperti penguatan positif, hukuman bisa dilakukan dengan buruk atau dapat dilakukan dengan baik. Semua terlalu sering, hal itu mungkin dilakukan dengan buruk.
Guidelines for punishment (Pedoman untuk hukuman)
Punishment:
·      Tell the person what is being done wrong.
·      Tell the person what is being done right.
·      Make sure the punishment matches the behavior.
·      Administer the punishment in private.
Hukuman:
·      Beritahu orang apa yang sedang dilakukan salah.
·      Beritahu orang apa yang sedang dilakukan dengan benar.
·      Pastikan hukuman sesuai perilaku.
·      Berikan hukuman secara pribadi.
  1. Motivation and job design (Motivasi dan Desain Pekerjaan)
“One area of practice in which the various motivation theories come into play is job design, the process of arranging work task for individuals and groups. Building jobs so that satisfaction and performance go hand-in-hand is in many ways an exercise in “fit” between the task requirements and an individual’s needs, capabilities, and interests.”[37]
Satu area praktik di mana berbagai teori motivasi mulai berlaku/digunakan adalah pekerjaan desain, yaitu proses mengatur pekerjaan tugas individu dan kelompok. Pekerjaan bangunan merupakan kepuasan dan kinerja berjalan beriringan dengan banyak cara latihan dalam kesesuaian antara persyaratan tugas dan kebutuhan individu, kemampuan dan kepentingan.
Dengan kata lain, desain pekerjaan adalah yang mengatur tugas pekerjaan bagi individu dan kelompok (Job design is arranging work tasks for individuals and groups).
a.    Scientific Management (Manajemen Ilmiah)
“Job simplifications employs people in clearly defined and specialized tasks with narrow job scope.”[38]
Penyederhanaan pekerjaan mempekerjakan orang dalam tugas yang jelas dan khusus dengan ruang lingkup pekerjaan yang sempit
b.    Job Rotation and Enlargement (Rotasi dan Perluasan Pekerjaan)
Ø  Job Rotation (Rotasi Pekerjaan)
“Job rotation increases task variety by periodically shifting workers between different job”[39]
Rotasi pekerjaan meningkatkan berbagai tugas secara berkala dengan menempatkan pekerja diantara pekerjaan yang berbeda.
Hal ini mengandung pengertian bahwa pergantian periodik seorang karyawan dari satu tugas ke tugas yang lain. Apabila karyawan mengalami rutinitas berlebih dari pekerjaan mereka, besar kemungkinan mereka akan merasa jenuh dengan pekerjaannya. Apabila hal ini terjadi, karyawan tersebut akan dipindah ke pekerjaan lain dengan tingkat dan persyaratan yang sama. Contohnya di Singapore Airlines dilakukan rotasi pekerjaan dengan memindah karyawan di bagian penjualan tiket ke bagian pemeriksaan koper dan sebaliknya.
Ø  Job Enlargement (Perluasan Pekerjaan)
“Job enlargement increases task variety by combining into one job two or more tasks previously done by separate workers”.[40]
Mengandung pengertian bahwa, peningkatan jumlah dan variasi tugas dari seorang individu melalui pekerjaannya yang berbeda-beda. Contohnya pekerjaan sebagai koki. Pekerjaan tersebut bisa jadi sangat membosankan apabila si koki hanya berdiri di depan kompor dan memasak setiap hari. Akan lebih baik apabila si koki tadi juga membeli sendiri bahan-bahan yang dibutuhkannya (berbelanja sendiri) daripada setiap hari terpaku di dapur tanpa ada perubahan-perubahan baru. Atau mungkin koki tersebut juga bisa membeli peralatan-peralatan memasak baru yang akan mendukung kinerjanya.
Ø  Job Enrichment (Pengayaan Pekerjaan)
“Job enrichment increases job depth by adding work planning and evaluating duties normally performed by the supervisor.”[41]
Mengandung pengertian bahwa, pengayaan pekerjaan merujuk pada perluasan vertikal pekerjaan, yang meningkatkan pengendalian pekerja terhadap rencana, pelaksanaan, dan evaluasi kerja. Pekerjaan yang diperkaya mengatur tugas-tugas sedemikian rupa sehingga memungkinkan pekerja menyelesaikan aktivitas, meningkatkan kebebasan dan kemerdekaan karyawan, meningkatkan tanggung jawab, dan memberikan umpan balik, sehingga individu akan mampu menilai dan memperbaiki kinerjanya sendiri. Contohnya adalah operator warnet. Seorang operator warnet wajib memiliki kemampuan dasar tentang pengoperasian komputer, kemampuan berhitung, dan juga wawasan mengenai internet. Selain keahlian tersebut, operator juga dilatih untuk menghadapi konsumen dan juga cara membetulkan komputer yang bermasalah. Dengan begitu dia tidak hanya berperan sebagai operator yang hanya menghitung uang, tetapi juga memberikan rasa aman dan percaya kepada para konsumen.
Ø  Job Characteristics Model (Model Karakteristik Pekerjaan)
Dikembangkan oleh J. Richard Hackman dan Greg Oldham, model karakteristik pekerjaan (job characteristic model) adalah model yang menunjukkan bahwa pekerjaan apapun bisa dideskripsikan dalam lima dimensi pekerjaan utama yaitu:[42]
1.  Skill variety (Keanekaragaman keterampilan), yaitu sejauh mana pekerjaan membutuhkan beragam aktivitas sehingga pekerja bisa menggunakan sejumlah keterampilan dan bakat yang berbeda. Contoh: pemilik dan operator bengkel yang melakukan beberapa pekerjaan seperti melakukan perbaikan, renovasi mesin, modifikasi, dan berhubungan dengan pelanggan.
2.  Task identity (Identitas tugas), yaitu sejauh mana suatu pekerjaan membutuhkan penyelesaian seluruh bagian pekerjaan yang bisa diidentifikasikan. Contoh: tukang kayu yang harus mendesain dan memilih kualitas kayu yang bagus sebelum menyelesaikan tugasnya dengan sempurna.
3.  Task significance (Arti tugas), yaitu sejauh mana suatu pekerjaan mempengaruhi kehidupan atau pekerjaan individu lain. Contoh: dokter.
4.  Autonomy (Otonomi), yaitu sejauh mana suatu pekerjaan memberikan kebebasan, kemerdekaan, serta keleluasaan yang substansial untuk individu dalam merencakan pekerjaan dan menentukan prosedur-prosedur yang akan digunakan untuk menjalankan pekerjaan tersebut. Contoh: wirausahawan.
5.  Feedback (Umpan balik), yaitu sejauh mana pelaksanaan aktivitas kerja membuat seorang individu mendapatkan informasi yang jelas dan langsung mengenai keefektifan kinerjanya. Contoh: setiap individu atau organisasi yang melakukan suatu proses yang ditujukan untuk kepentingan pihak lain.
Ø  Improving Job Characteristics (Meningkatkan Karakteristik Pekerjaan)
“For those situations when job enrichment is a got choice, hackman and his colleagues recommend five ways to improve the core job characteristics. Firs, form natural units of work. Make sure that the tasks people perform are logically related to one another and provide a clear and meaningful task identity. Second, combine tasks. Expand job responsibilities by pulling together into one larger job a number of smaller tasks previously done by other. Third, establish client relationships. Put people in contact with others Who, as clients inside or outside the organization, use the results of their work. Fourth, open feedback channels. Provide opportunities for people both to receive performance feedback as they work and to learn how performance changes over time. Fifth, practice vertical loading. Give people authority to perform the planning and controlling previously done by supervisors. In contrast to job enlargement and job rotation which only make jobs bigger horizontally, job enrichment makes jobs vertically bigger as well.[43]
Untuk situasi ketika pekerjaan pengayaan punya pilihan, hackman dan rekan-rekannya merekomendasikan lima cara untuk meningkatkan karakteristik pekerjaan pokok. Pertama, membentuk unit kerja alami. Memastikan bahwa orang melakukan tugas secara logis berhubungan satu sama lain dan memberikan identitas tugas yang jelas dan bermakna. Kedua, menggabungkan tugas. Memperluas tanggung jawab tugas dengan terlibat bersama-sama ke dalam satu pekerjaan besar dari sejumlah tugas-tugas kecil yang sebelumnya dilakukan oleh orang lain. Ketiga, membangun hubungan klien. Menempatkan orang-orang dengan orang lain, sebagai klien di dalam atau di luar organisasi, menggunakan hasil pekerjaan mereka. Keempat, membuka saluran umpan balik. Memberikan kesempatan bagi orang-orang baik untuk menerima umpan balik kinerja saat mereka bekerja dan belajar bagaimana perubahan kinerja dari waktu ke waktu. Kelima, berlatih beban vertikal. Memberikan orang kewenangan untuk melakukan perencanaan dan pengendalian yang sebelumnya dilakukan oleh supervisor. Berbeda dengan perluasan pekerjaan dan rotasi pekerjaan yang hanya membuat pekerjaan horizontal lebih besar, pengayaan pekerjaan membuat pekerjaan vertikal lebih besar juga.

c.    Alternative Work Schedule (Jadwal Kerja Alternatif)
“Not only is the content of jobs important, the context is too. Among the more significant developments is the emergence of a number of alternative ways for people to schedule their wok time, and “flexibility” is often the key word. Many employers are finding that providing alternative work schedules can help attract and retain motivated workers by offering flexibility that helps them deal with the many complications of work life balance.”[44] 
Tidak hanya isi dari pekerjaan yang penting, bahkan konteks juga. Di antara perkembangan yang lebih signifikan adalah munculnya sejumlah alternatif cara bagi orang untuk membuat jadwal waktu pekerjaan mereka, dan "fleksibilitas" adalah sering sebagai  kata kunci. Banyak majikan yang menemukan bahwa menyediakan jadwal kerja alternatif dapat membantu menarik dan mempertahankan termotivasinya pekerja dengan menawarkan fleksibilitas yang membantu mereka menghadapi banyak komplikasi dari keseimbangan kehidupan kerja.
1.  Flexible Working Hours (Jam kerja fleksibel)[45]
“Flexible working hours give employees some choice in daily work hours” (Jam kerja yang fleksibel memberikan karyawan beberapa pilihan dalam jam kerja sehari-hari).
Hal ini dapat disimpulkan bahwa, jam kerja fleksibel (Flexible working hours) adalah jam kerja yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan pekerja tanpa mengganggu jam kerja inti yang sudah umum. Dalam jam kerja ini, karyawan dapat menentukan kapan dia berangkat ke tempat kerja dan kapan dia pulang ke rumah. Selain itu dalam jam kerja ini karyawan bebas untuk melakukan apapun termasuk mencicil tugasnya yang harus dikerjakan dalam jam kerja inti agar pekerjaannya tidak terlalu menumpuk.
2.  Compressed Work Week (Minggu kerja terkompresi)[46]
“A compressed work week allows a full-time job to be completed in less than five days” (Seminggu kerja dikompresi memungkinkan pekerjaan sepenuh waktu untuk diselesaikan dalam waktu kurang dari lima hari).
3.  Job Sharing (Pembagian Kerja)[47]
“Job sharing splits one job between two people” (Pembagian kerja membagi satu pekerjaan antara dua orang).
Hal ini dapat disimpulkan bahwa, pembagian pekerjaan dilakukan untuk lebih memudahkan tugas yang harus diselesaikan oleh karyawan. Contohnya adalah petugas SPBU. Para petugas di SPBU memiliki tugas penting yaitu mengisikan BBM sesuai pesanan dan juga menerima uang dari pembeli serta memberikan bon jika diperlukan. Akan sulit jika pekerjaan tersebut hanya dilakukan satu orang. Tetapi apabila tugas tadi dilakukan oleh dua atau tiga orang, pekerjaan tersebut akan lebih teratur dan juga akan selesai lebih cepat sehingga tidak membuat pembeli lain menunggu.
4.  Telecommuting[48]
“Telecommuting involves using IT to work at home or outside the office” (Telecommuting melibatkan menggunakan IT untuk bekerja di rumah atau di luar kantor)
Telecommuting is a work arrangement that allows at least a portion of scheduling work hours to be completed outside the office. It is facilitated by computers and information technology that allow electronic links with customers and co workers”
Telecommuting adalah perjanjian kerja yang memungkinkan setidaknya sebagian dari penjadwalan jam kerja selesai di luar kantor. Hal ini difasilitasi oleh komputer dan teknologi informasi yang memungkinkan link elektronik dengan pelanggan dan rekan kerja.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, telecommuting merujuk pada karyawan yang melakukan pekerjaan mereka di rumah. Karyawan-karyawan ini tidak perlu pulang-pergi ke kantor karena mereka dapat terhubung dengan kantor mereka melalui komputer di rumah. Namun tidak semua pekerjaan dapat dilakukan dengan telecommuting. Hanya ada beberapa jenis pekerjaan yang sesuai seperti penulis, pelukis, web-designer, dll.
5.  Par-Time Work (Bekerja paruh waktu)[49]
”Part-time work is temporary employment for less than the standard 40-hour work week” (Bekerja paruh waktu adalah kerja sementara kurang dari standar kerja dalam seminggu 40 jam).
 “Contingency workers are employed on a part-time and temporary basis to supplement a permanent workforce” (Pekerja kontingensi bekerja pada paruh waktu dan secara sementara untuk melengkapi tenaga kerja permanen).
The growing use of temporary workers is a current employment trend. Part time work is done on any scheduling less than the standard 40 hour work week and that does not qualify the individual as a full-time employee.”
Meningkatnya penggunaan pekerja sementara adalah tren pekerjaan saat ini. Paruh waktu pekerjaan yang dilakukan pada setiap penjadwalan kurang dari standar 40-jam kerja dalam seminggu dan itu tidak memenuhi syarat individu sebagai karyawan penuh waktu.
Hal ini dilakukan karena pekerja paruh waktu atau kontingensi dapat dengan mudah disewa, dikontrak, dan dihentikan dalam menanggapi perubahan kebutuhan, banyak pengusaha seperti fleksibilitas mereka menawarkan dalam mengendalikan biaya tenaga kerja dan berurusan dengan siklus permintaan. Di sisi lain, terdapat beberapa khawatir bahwa pekerja sementara kekurangan komitmen dibandingkan pekerja tetap dan dapat menurunkan produktivitas. Mungkin masalah paling kontroversial pekerja paruh waktu adalah bahwa mereka dapat dibayar kurang dari rekan-rekan mereka yang penuh waktu, dan banyak tidak menerima manfaat penting seperti; perawatan kesehatan, asuransi jiwa, pensiun dan biaya liburan.

C.    Kesimpulan
Motivasi merupakan hal yang sangat diperlukan dalam sebuah organisasi karena tanpa adanya motivasi dalam organisasi, maka akan sulit organisasi tersebut dalam mencapai tujuannya, dengan menerapkan motivasi dalam organisasi, maka disuatu organisasi tersebut akan tercipta komunikasi yang baik dan kerjasama yang baik antara anggota dan pemimpinnya, terbuka dan transparan. Secara individual, upaya motivasi bisa dilakukan melalui upaya-upaya mengontrol, menilai lalu memotivasi diri sendiri. Namun, ada kalanya kesadaran untuk memotivasi diri tidak muncul dalam diri seseorang, karena itu diperlukan motivasi eksternal yang bisa berasal dari keluarga, rekan sejawat, guru dan lainnya. Dengan motivasi yang baik, maka para bawahan/karyawan akan merasa senang dan bersemangat dalam bekerja sehingga mengakibatkan perkembangan dan partumbuhan yang signifikan pada organisasi yang di pegang oleh pimpinan tersebut. Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.
Beberapa ahli teori, termasuk Abraham Maslow, Frederick Herzberg, Clayton Alderfer, dan David McClelland telah memberikan teori untuk membantu menjelaskan kebutuhan sebagai sumber motivasi, sebagai berikut:
  1. Hierarchy of Needs Theory ( Teori Hirarki Kebutuhan)
  2. ERG Theory (Teori ERG)
  3. Two-Factor Theory (Teory Dua Faktor)
  4. Acquired Needs Theory (Teori Akuisisi Kebutuhan)
Terdapat juga teori motivasi yang lain, yaitu; teori proses, teori keadilan, teori harapan, teori penetapan tujuan dan teori keberhasilan diri, yang mana teori-teori tersebut menjelaskan bagaimana para pekerja memilih tindakan perilaku untuk memenuhi kebutuhan dan menentukan pilihan mereka untuk bekerja keras atau tidak berdasarkan preferensi/pilihan individu, hadiah/penghargaan yang didapatkan dan kemungkinan hasil kerja.



DAFTAR PUSTAKA


Danim, Sudarman, Danim, Kepemimpinan Pendidikan: Kepemimpinan Jenius (IQ+EQ), Etika, Perilaku Motivasional, dan Mitos, Bandung, Alfabeta, cet. kedua, 2012.

Hanif, Ismail, dan Darsono, Prawironegoro, Sistem Pengendalian Manajemen: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, Mitra Wacana Media, 2009.

John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, Asia, Pte Ltd, 2010.

Martinis, Yamin, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta, Ciputat Mega Mall, Cet. 1, 2013
U, Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, Bandung, CV. Pustaka Setia, Cet. 1. 2012.




[1]     Sudarman, Danim, Kepemimpinan Pendidikan: Kepemimpinan Jenius (IQ+EQ), Etika, Perilaku Motivasional, dan Mitos, (Bandung: 2012), Alfabeta, cet. Kedua, hal. 126.
[2]     Hanif, Ismail, dan Darsono, Prawironegoro, Sistem Pengendalian Manajemen: Konsep dan Aplikasi, (Jakarta: 2009), Mitra Wacana Media, hal. 41.
[3]     U, Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: 2012), CV. Pustaka Setia, Cet. 1, hal. 255.
[4]     John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, (Asia: 2010), Pte Ltd, hal, 350.
[5]     Ibid., hal. 350.
[6]     Ibid., hal. 351.
[7]     Ibid., hal. 352.
[8]     Ibid., hal. 352.
[9]     Ibid., 352.
[10]    Martinis, Yamin, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: 2013), Ciputat Mega Mall, Cet. 1, hal. 206.
[11]    Ibid., hal. 206-207.
[12]    John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, hal. 353.
[13]    Ibid., hal. 353.
[14]    Ibid., hal. 353.
[15]    U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, hal. 260.
[16]    John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, hal. 353.
[17]    Opcit., hal. 262.
[18]    John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, hal. 353.
[19]    U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, hal. 260-261.
[20]    John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, hal. 354.
[21]    Ibid., hal. 354.
[22]    Ibid., hal. 355.
[23]    John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, hal. 356-357.
[24]    Martinis, Yamin, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta: 2013), Ciputat Mega Mall, Cet. 1, hal. 208-209.
[25]    Opcit., hal. 357-358.
[26]    John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, hal. 358.
[27]    Martinis, Yamin, Paradigma Baru Pembelajaran, hal. 207.
[28]    John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, hal. 359.
[29]    Ibid., hal. 360.
[30]    Ibid., hal. 360.
[31]    Martinis, Yamin, Paradigma Baru Pembelajaran, hal. 210.
[32]    John, R. Schermerhor, JR, Intoduction to Management: International Student Version, hal. 361.
[33]    Ibid., 361.
[34]    Ibid., 362.
[35]    Ibid., hal. 362.
[36]    Ibid., hal. 362.
[37]    Ibid., hal. 363.
[38]    Ibid., hal. 263.
[39]    Ibid., hal. 364.
[40]    Ibid., hal. 364.
[41]    Ibid., hal. 364.
[42]    Ibid., hal. 364.
[43]    Ibid., hal. 365.
[44]    Ibid., hal. 366.
[45]    Ibid., hal. 366.
[46]    Ibid., hal. 366.
[47]    Ibid., hal. 366.
[48]    Ibid., hal. 366-367.
[49]    Ibid., hal. 367.

No comments:

Post a Comment

Memberikan komentar yang baik adalah suatu pilihan dan keputusan yang bijak dan bermartabat. ^_^

Note: Only a member of this blog may post a comment.